Rabu, 04 November 2009

Ekonomi permen karet VS UMKM

EKONOMI PERMEN KARET VS UMKM

Masih ingat krisis moneter tahun 1997? Langkanya US Dolar waktu itu mengakibatkan harga sembako membumbung dan kemudian dikenal dengan krisis sembako. Akibat berikutnya adalah runtuhnya rezim Orde baru di bawah kepemimpinan Presiden Suharto. Perlu diketahui sebelum itu mantan Presiden Suharto memang berhasil membangun perekonomian Indonesia. Dengan ekonomi konglomerasinya beliau mampu memacu pertumbuhan. Bahkan mampu mengungguli Malaysia dan Thailand. Namun pertumbuhan yang beliau ciptakan dibangun di atas pondasi yang rapuh. Model perekonomian padat modal seperti ekonomi konglomerasi memang efektif namun sangat tidak efisien, apalagi diwarnai dengan praktek-praktek KKN. Karena perusahaan-perusahaan didirikan tidak melalui prinsip-prinsip entrepreneurship, sehingga sangat rapuh. Pertumbuhannya pun hanya dinikmati oleh segelintir orang, dan kesenjangan si kaya dan si miskin, kesenjangan pusat dan daerah semakin lebar.
Penggelembungan ekonomi yang dibangun rezim orde baru didapatkan dengan membangun industri manufaktur dengan bantuan pinjaman luar negeri. Salahnya adalah walau mampu membangun industri tetapi langsung fokus industri hilirnya, bukan dimulai dengan memperkuat industri hulu dan sektor pertanian sebagai penyedia bahan baku. Dan bahan baku dari industri manufaktur itu didapat dari impor. Akibatnya ketika US Dolar langka perusahaan itu tidak mampu impor dan macet. Uraian di atas oleh pengamat para ekonomi dinamakan Bubble economic. Cepat tumbuh tapi rapuh, mudah pecah.
Kasus serupa seperti yang terjadi di AS. Saat ini Negara adi daya ini sedang dilanda krisis moneter, Barangkali krisis moneter yang terjadi di Amerika Serikat (AS) saat ini adalah yang terparah selama setahun ke belakang sejak gonjang-ganjing kasus Subprime Mortgage. Banyak pengamat dan praktisi telah memaparkan dan menganalisa mengapa hal ini dapat terjadi. Secara umum penyebab utamanya adalah ledakan kredit oleh lembaga-lembaga keuangan dan rumah tangga yang mengakibatkan besarnya hutang yang harus dibayarkan dan akhirnya tidak terbayar. Bahkan perusahaan otomotif sebesar General Motorpun pailit dan diambil alih pemerintah.
Sebaliknya China saat ini justru mengalami surplus devisa. Selain lebih hemat dalam menggunakan sumber daya, China dengan sistem otoritarian memberlakukan upah buruh dan pekerja relatif rendah. Akibatnya biaya produksi mampu ditekan dan outputnya harga produk-produk China sangat rendah tak tertandingi. Dengan harga yang rendah dan kualitas yang relatif bagus produk-produk China mampu merajai pasaran international. Walau China adalah negara Komunis dan menolak demokrasi tapi China menerima pasar bebas.
Sedangkan Jepang adalah contoh negara yang membangun ekonominya dengan prinsip-prinsip entrepreneurship. Setelah kalah pada perang dunia II, Jepang sukses membangun ekonominya. Pada dekade 1980an pertumbuhan ekonomi Jepang 5 – 6% di atas pertumbuhan ekonomi AS. Walaupun Jepang bukan negara penemu teknologi namun sukses membangun industri otomotif dan elektronika. Jepang adalah bangsa kreatif, dia hanya mengadopsi teknologi temuan barat kemudian dengan kreatifitasnya di kembangkan dengan sangat berorientasi pasar. Hasilnya saat ini kendaraan bermotor dan produk elektronik Jepang merajai pasaran dunia. Ekonomi Jepang di motori oleh kaum Samurai yang memang bermental pejuang rela menjadi entrepreneur.
Seperti telah diuraikan di atas perekonomian melalui sistem padat modal walau mampu memacu pertumbuhan tapi tidak kokoh. Dan pada proses operasionalnya walau efektif namun tidak efisien. Sistem padat modal biasanya dibangun jauh dari prinsip-prinsip entrepreneurship. Berbeda dengan UMKM, pembangunan ekonomi melalui UMKM biasanya kuat walau pertumbuhan tidak secepat melalui padat modal. UMKM biasanya berdiri dengan dibangun dari bawah berdasarkan prinsip-prinsip entrepreneurship, sehingga kokoh dan efisien.
Pada tahun 1998 terdapat fenomena menarik, dimana 47 juta UMKM terbukti mampu bertahan dan selamat dari krisis. UMKM ini menyerap 79 juta tenaga kerja dan bahkan memberti kontribusi pada PDB sebesar 56,7% (Hartarto, 2003). Di lain pihak, bantuan pemerintah untuk UMKM saat ini relatif sangat minim. Apalagi kalau dibandingkan dengan negara-negara maju seperti Jerman, Jepang, Taiwan, dan Thailand dimana perhatian negara sangat besar dan bahkan UMKM menjadi tumpuan masa depan negara. Di negara-negara tersebut, UMKM dan entrepreneur membentuk golongan menengah.
Jepang bangkit dari keterpurukan bom atom 1950 menjadi pemimpin industri dunia dalam 23 tahun berkat jasa kaum samurai yang mau menajadi entrepreneur. Jerman dan Belanda menumpukan masa depannya pada UMKM dan industri star-up dengan konsep catur pilar yaitu : sinergi KADIN – pemerintah – perguruan tinggi – bank, dengan peran pemerintah yang agresif lewat pembangunan inkubator dalam bentuk techno-park, dengan peran aktif jaringan bisnis etniknya. Sehingga dalam 20 tahun pendapatan per kapita Taiwan meningkat 16 kali lipat. Sedangkan di Thailand kemajuan dipelopori oleh raja Bumipol dengan terjun ke lapangan mengembangkan hujan buatan sehingga 4 paten international di tangannya. Kerajan memiliki laboratorium canggih yang diperuntukan bagi kesejahteraan rakyatnya yang gemar entrepreneurship. (Wonogiri, Oktober 2009)