
SEBUAH SURAT TERTANGGAL 19-12-2005 *)
Kawanku,
Aku tiba-tiba teringat kembali masa kuliah dulu. Kuteringat kamu, dosen-dosen, tentang keseriusan mereka, kelucuan mereka, dan keceriaan mereka. Kuteringat praktikumnya pak Daryono yang sampai larut malam, Bu Tuti yang kalau ngasih kuliah suka bagi-bagi permen, kita thethek di depan 108, baca Tempo dan KR di perpus, mejeng di kursi anti stres sambil nggodain cewek, juga ingat Kalitirto dengan Zetornya.
Kawan, ingatkah kau ketika dulu kita sering nglembur laporan praktikum bareng-bareng, juga nggarap soal ujian untuk esoknya dan sampai berulang kali buat proposal tugas akhir karena ditolak melulu..
Ah, rasanya saat ini aku rindu kalian semua, seolah-olah aku menyesal berpisah dengan kalian, meninggalkan kampus tercinta. Walaupun saat itu aku benar-benar bertekat lepas dari orang tua untuk mencoba tegak di atas kedua kaki sendiri. Tanpa sadar akhirnya kita masing-masing menjalani hidup yang sebenarnya.
Hidup dengan jiwa raga sendiri menjadi penopang diri sendiri.
Kawan, hatiku terasa bergetar oleh kerinduan yang dalam ini. Aku ingin kembali membuka-buka lembaran masa lampau.
Sungguh indah, orang-orang berjalan dengan langkahnya, masing-masing peristiwa manis-pahit silih berganti. Aku melihat kehidupan ini benar-benar indah karena penuh aneka ragam kejadian. Kita berjumpa-berpisah dengan kawan, guru, dosen, dan keluarga. Kelahiran dan kematian terjadi setiap saat.
Kawan, kita kadang gembira-tertawa naik kereta gemerlapan. Suatu saat kita tersuruk-suruk bertelanjang kaki di bawah terik Matahari atau basah kuyup di bawah hujan badai.
Kita kadang berjalan tenang bersama angin sejuk segar, tapi suatu saat tergelincir, terperosok bahkan terpelanting karena jalan miring, curam dan angin membadai.
Inilah hidup.
Sakit-sehat, sedih-gembira silih berganti. Namun demikian jiwa harus selalu sadar untuk menghadapi semuanya. Jiwa yang sadar akan selalu tegar dan segar menempuh aneka ragam dinamika kehidupan. Kita harus melangkah maju meskipun untuk itu kita alami penderitaan. Tak ada yang perlu dihindari karena hanya akan membuat kita menyesal nanti. Kita tak tahu kapan kematian datang, mungkin esok lusa atau barangkali nanti. Karena itu nikmati setiap detik dengan segenap jiwa raga sebelum kematian merenggut kita.
Kawan, aku ingat, kau pernah berkata bahwa kehidupan ini keras dan menyakitkan.
Kau berkata, kita dilahirkan untuk menderita. Tapi sekarang aku melihat bahwa hidup ini indah dan menyenangkan karena hidup ini dihiasi dengan pukulan-pukulan, kesakitan-kesakitan yang kadang mendera kita. Hidup ini menyenangkan karena kita ditantang oleh kesulitan-kesulitan, penderitaan-penderitaan agar kita dapat menunjukkan eksistensi manusia yang sebenarnya. Tanpa kesulitan-kesulitan dan penderitaan kita tak akan dewasa, tak akan berkembang dan sulit mengenal diri.
Yah, sesungguhnya kesulitan dan penderitaan adalah kawan yang paling mengesankan. Itulah yang saat ini kulihat.
Kawan, tentu kau sudah mengetahui bahwa dunia ini tak ada yang kekal. Begitu pula dengan kesulitan-kesulitan yang kita alami, kesakitan-kesakitan yang kita derita. Setiap saat terjadi perubahan yang terus berjalan bagaikan air. Kau lihat sungai kadang kotor penuh sampah tapi suatu saat akan kembali jernih. Begitulah hidup.
Rehat :
Honesty is the first step to a true success
It’s better have ever do mistake couse they have done anything
than
never do mistake couse they do nothing
Karena itu kita harus menikmati setiap detik dengan sepenuh hati, apapun yang terjadi. Apa yang sudah lewat tak akan pernah kembali. Jangan sampai kita menangis di akhir perjalanan, cepat atau lambat perjalanan ini akan berakhir.
Kawan, baru saat ini aku menyadari betapa besar Kasih Tuhan. Sungguh besar berkah yang dilimpahkan-Nya dan hidup adalah berkah Tuhan yang terbesar. Jangan sampai kita lewatkan tanpa arti. Kita lahir menangis karena kita akan memulai suatu perjalanan yang belum kita mengerti. Sesuatu yang asing akan kita jalani. Mudah-mudahan kita tersenyum di akhir perjalanan karena telah berhasil menyelesaikan segalanya.
Ah..., kukira cukup di sini surat ini semoga kau tidak bosan membacanya. Berdiri tegak dan nikmati apa yang terjadi. Hadapilah semuanya dengan segenap imanmu, kau akan merasakan bahwa hidup ini sangat menyenangkan.
*) Disadur dari Booklet biodata MP ’86 yang disusun oleh Wahyu Purnomo tahun 1992
Tulisan di atas sangat tergraffity di hati, karena booklet itu disusun saat MP ‘86 akan berpisah, di saat aku berada di persimpangan jalan dan kehilangan kompas. Di saat aku lebih banyak memikirkan diriku sendiri. Di saat itu kawan-kawan MP ‘86 justru dengan tulus membuat acara perpisahan. Hal itulah yang membuat kejadian waktu itu sangat mengesankan.
Kalau kita cermati benang merah tulisan di atas adalah bercerita perihal ‘kehidupan’ dan mungkin juga ‘perjuangan’.
Sering kita dengar pernyataan dari orang-orang bijak bahwa “Hidup adalah perjuangan.” Menurutku memang benar hidup adalah perjuangan karena manusia mempunyai banyak kebutuhan. Jadi manusia harus berjuang memenuhi kebutuhan agar dapat mempertahankan hidup dan punya eksistensi. Kebutuhan manusia banyak dan bertingkat. Dari mulai kebutuhan yang paling mendasar yaitu makan dan minum hingga kebutuhan untuk berprestasi dan beraktualisasi. Untuk mencukupi kebutuhan dasar mungkin bagi kita belum begitu menjadi beban. Tapi bagi sebagian mereka tentu lain. Anak jalanan rela berpanas-panas di perempatan jalan, preman rela saling membunuh karena memperebutkan lahan, buruh pelabuhan rela memanggul beban berat, pedagang sayur rela bangun dini hari, para PSK rela menjual harga diri, dan pencuri berani menghadapi resiko dibakar hidup-hidup. Jadi benar hidup harus berjuang agar survive. Tapi seperti disebutkan di atas menurut Maslow hidup tidak hanya sekedar makan dan minum tapi juga butuh rasa aman-tentram, butuh bersosialisasi, berprestasi, dan beraktualisasi Sehingga saya sangat tidak setuju dengan ungkapan Jawa yang salah kaprah yaitu : Urip iku ibarate mampir ngombe. Hidup tidak hanya sekedar mangan lan ngombe. Kalau yang terjadi demikian tidak ada bedanya manusia dengan binatang.
Di dalam sebuah buku suci terdapat ungkapan lain tentang manusia hidup, yaitu manusia adalah Kolifah (Pemimpin) di bumi. Sehingga manusia diberi kuasa penuh untuk mengelola semua sumber daya yang ada di atas bumi agar lestari dan dapat menghadirkan suatu produk yang bermanfaat bagi manusia itu sendiri. Maka agar dapat mengelola dan menghadirkan suatu kemanfaatan, manusia harus berilmu. sedangkan ilmu harus diperoleh dari belajar dan berfikir. Dengan demikian manusia hidup tidak sekedar mampir ngombe tapi juga berfikir dan berbuat. Selain itu kalau hidup ini hanya untuk ngombe dan ngombenya “melampaui batas” maka bisa mendem. Dan mendem itu adalah suatu proses yang terhenti atau perjalanan waktu tanpa arti. Maka kalau manusia hidup hanya mangan lan ngombe atau bahkan jadi mendem maka dia telah gagal membawa misinya sebagai makhluk yang diberi mandat untuk menjadi manajer di bumi.
Dulu setelah lulus kuliah saya pernah mencoba untuk dapat mandiri. Saya baru sadar ternyata idealisme kampus yang selama itu aku agungkan tidak sejalan dengan realita kehidupan masyarakat. Atmosfir kehidupan yang bertempo cepat, materialistis, kompetitif, dan kehidupan masyarakat dengan budaya-budaya adiluhung yang nyaris hilang, membuat saya tahu dan merasakan, memang benar hidup adalah perjuangan.
Dalam suatu meeting di kantor tempat saya bekerja ada seorang direktur mengeluarkan statemen demikian “berani hidup atau berani mati.” Ungkapan tersebut di itu sangat berkesan dan menjadi bahan perenunganku. Ternyata ‘berani hidup’ konsekwensinya lebih berat. Sebab berani hidup harus berani ngedan agar keduman (Ronggo Warsito) dan ini tentu saja melawan nurani. Contoh kongkrit adalah Pak Harto yang mantan Presiden itu, jika dulu beliau gugur pada pertempuran serangan umum 1 maret, tentu foto-fotonya masih terpampang dalam buku-buku sejarah sebagai pahlawan Kemerdekaan. Namun pak Harto ‘berani hidup’ bahkan menjadi presiden selama 32 tahun. Selama menjadi presiden tak ada seorangpun yang berani membangkang, dieluk-elukan dan ‘dijilat’. Karena ‘berani hidup’ dan bejo pak Harto menjadi kurang eling lan waspodo (kata para paranormal sih...). Hingga akhirnya beliau dilengserkan oleh serentetan demonstrasi mahasiswa. Setelah lengser semua orang menghujat termasuk orang-orang yang pernah dekat dengannya. Itulah konsekwensi berani hidup. Bahkan Soe Hok Gie anggota mapala UI yang gugur di gunung puncak Semeru, sewaktu jenazahnya di evakuasi, dalam sakunya ditemukan coretan tulisan tangannya sebagai berikut “Manusia yang paling beruntung adalah manusia tidak pernah dilahirkan atau dilahirkan tetapi mati muda dan alangkah tidak beruntungnya orang yang hidup sampai tua tetapi tidak pernah melakukan sesuatu apapun.” Itulah Soe Hok Gie, entah dia meninggal kedinginan atau menghirup gas beracun atau sebab lain, tetapi yang jelas dia telah menyelam sangat dalam di dalam samodra kehidupan.
Rehat :
Urip-uripen anggonmu kumpul-kumpul, nanging ojo nggantungake urip soko kumpul-kumpul
(welinge mbah Gito)
Maka kalau ada pertanyaan berani hidup atau berani mati di tengah kesulitan ekonomi? jawab yang tepat untuk saat ini adalah ‘terus hidup’ karena pada hakekatnya di dalam kesulitan ada kemudahan dan di dalam cobaan ada hikmah. Selain itu kita sudah tidak sedang berperang melawan penjajah tetapi kita tengah berperang melawan diri kita sendiri. Diri kita yang malas, yang suka seenaknya, tidak didiplin, lebih banyak menghabiskan waktunya untuk ngegame daripada berkarya bikin pemrograman, suka menuntut hak tetapi tidak tahu kewajibannya, yang pingin naik mobil mewah, suka makan enak, ingin selalu punya uang banyak, pakai pakaian perlente, punya rumah bagus,tapi malas kerja keras dsb.
Dan....... rasanya kok baru kemarin saya lulus dari FTP. Tiada yang abadi, ada perjumpaan ada pula perpisahan, inilah saat yang tepat untuk berpisah. Mohon doa restu aku akan mencoba lagi hidup dengan menghidupi diri sendiri dan bereksistensi dengan memberi kontribusi pada aktifitas kehidupan masyarakat.
Harapan saya semoga Gitapala tetap menjadi organisasi yang berdaulat dan berkomitmen kuat.
Selamat merintis masa depan semoga kamu menjadi manusia yang beruntung, hidup hingga tua dan berbuat sesuatu, sukses membawa mandat sebagai manajer di atas bumi. Amin
Memory
Angkatan ‘84
Simbah (Mbah, putumu wis piro?)
Angkatan ‘85
Agus Hamiyanto (“Makanya kalau naik gunung bawa celana cadangan, tapi pulang naik gunung pakai sarung lebih berkesan”), Ndaru (Sori ra-diomu tak ilangke), Harsono (Trim’s atas bantuannya waktu di Serpong), Hendro (Trim’s atas pengadaan parka Gitapalanya) Anton, Happy, Yuni, Iin menwa, Lia dll (Terima kasih semuanya atas bantuan dan partisipasinya waktu itu).
Angkatan ‘86
Agus Rambo (Piye kabare Novi), Agus Pete (Te, anakmu saiki wis piro?), Febru Cahyono (Trim’s ide nama Gitapalanya dan bantuan tulusnya waktu itu), Jemek (Yang paling kuingat dengan kamu adalah ketika kamu terserang Mountain sickness di Sumbing “Makanya jangan banyak tingkah”) Wiwin (Win trim’s ya... rancangn renungan dari filsuf Kahlil Gibran waktu itu, sori tak jadi dibaca, kamu adalah sekretaris yang sangat berdedikasi), Bebe (Trim’s design logo Gitapalanya), Hari brengos (Jianjuk! Kon saiki ono ngendi).
Angkatan ‘87
Tiyok (Yo, aku bisa merasakan, ngurus pemanjat memang susah, masang jalur memang menyengsarakan, mondar-mandir ngurus segala sesuatu memang melelahkan, trim’s atas kerjasamanya, trim’s juga atas dana talangan dari tabunganmu untuk menalangi dana yang belum turun, trim’s lagi atas pemberian bordir logo Gitapalanya. Peranmu sebagai Bandung Bondowoso dan Ande-ande lumut di ketoprak Gitapala sangat mengesankan. Salam buat budhemu, trim’s atas sarapan paginya waktu itu), Bowo (Wo rancangan Wall-mu pancen apik, jip willismu sing kocone pecah kesodog papan kae saiki no ngendi), Gono (Gon, crito-crito sarune kapan diterbitke dadi buku, trim’s atas dedikasinya sebagai sie konsumsi di LPD YT ‘90))
Angkatan ‘88
Ponco (Co, sengsara karena kerja keras memang indah. Teh Pocimu neng Srikaton ngangeni), Irvan (Van kowe saiki ono ngendi), Santi (Kamu adalah bendahara Gitapala yang paling jarang pegang uang karena memang belum punya banyak uang kas, trim’s atas kerjasamanya), Danik (Nik, piye kabare penghijauan neng Randu-gunting, isih urip opo ora), Yung & Rustam (Yang paling ciamik dengan kamu adalah ketika kita sama-sama taklukkan Merapi), Wiwik (Wik, trim’s banyak atas akomodasi dan transportasinya waktu cari dana ke Semarang), Seno (Yang paling berkesan dengan kamu adalah ketika kita sering latihan manjat di Babarsari dan kekurangan peralatan kamu memberi webbing dari cangklongan tas), Rudi ( Trim’s atas nganternya proposal ke Graphic adv.), Si awak kapal “Pinisi Amanagapa” Basam (Trim’s semangkanya waktu di Glagah, You are a sweet sangarman), Andrian (Trim’s sumbangan Karabiner besinya). Anung (Trim’s sumbangan Chalk bagnya), Brintik (Gaya manjatmu memang sangat menawan), Dharmawan (Kalau ndayung jangan ngoyo), Bagus (Trim’s atas bantuannya masang jalur waktu malam final LPT Yogya Terbuka ‘90 sori aku tidur waktu itu, trim’s juga atas bantuan transportasinya waktu cari dana ke Semarang), Yayak (Trim’s atas bantuan fasilitas penunjang kegiatan)
Angkatan ‘89
Inti, Krisna (Kris kamu bakat dadi pemain ketoprak, peranmu sebagai Roro Jonggrang patut diacungi jari gemuk), Hanik, Novi (Agus Rambo yang paling pantas komentar)
Angkatan ‘90
Mad, Supri, Dodo, Maong, Yani dll. Sori aku nggak banyak kenangan manis dengan kalian, abis saat kalian datang aku sudah harus pergi.
Anak-anak PMI Mas Awang, Manyul, Pun-pun (Sori aku telah menyengsarakan kalian waktu LPT Yogya Terbuka ‘90, trim’s atas bantuannya, tanpa kalian acara LPT YT ‘90 ra mlaku).
Anak-anak Sekber Muslak dkk (Slak trim’s atas peminjaman tustel waktu kegiatan Tracking Gitapala di Alas Bingung, juga bantuannya sebagai belayer), Uni (Anakmu wis piro).
Terima kasih juga kepada :
1. Pak Rektor, Pak Zuheid Nur dan Pak Bambang Kartika sebagai Dekan dan PD III (“Maaf pak saya merepotkan”).
2. Pak Widodo yang telah memberi ijin peminjaman peralatan las (“Maaf pak waktu itu saya ujas-ujus nggak pakai surat resmi habis nggak punya waktu sih”), juga mas Bambang Cs. (komunitas bengkel) yang telah mengelas wallnya sekber karena pada jebol.
3. Mas Wahyu lab listrik yang telah memberi bantuan kabel olor dan sambungan setrum.
4. PMI Yogya yang telah memberi bantuan ambulance dan tenaga teknis (“Maaf crewmu tertelan-tarkan”)
5. Komunitas Mapala DIY yang telah memberi pinjaman peralatan.
6. Para panitia LPT YT ‘90 yang tak mungkin saya sebutkan satu-persatu.
7. Warga FTP UGM kala itu yang turut memberi support.
8. Asep Kehutanan (“Trims atas bantuan sebagai belayer)
9. Akur optic (Maaf pak Ali Maskur bila waktu itu kurang berkenan dengan penyajian kami), Jas Taksi, Elok swalayan, Graphic Adv., Radio Rakosa FM, Duta Photo, Hartom souvenir sebagai penyumbang dana.
10. Pemberi pinjaman Matras, tali serat untuk nyencang wall dan lampu spot yang dipinjam oleh Agus Rambo dan Agus Pete, entah dari mana mereka meminjam. Juga bambu untuk masang spanduknya Elok swalayan.
11. Sopir truk sampah UGM yang telah ngangkut wall dari Sekber-FTP PP.
Tanpa orang-orang tersebut di atas LPT YT ‘90 mungkin tidak dapat terselenggarakan.
Terima kasih juga kepada orang-orang (yang mungkin belum tersebut di atas) yang turut memberi kontribusi pada proses kelahiran dan pembesaran Gitapala.
1. Bapak Bambang Kartika selaku PD III yang memberi ijin untuk berdirinya Gitapala dan secara aktif mendukung setiap aktifitas kegiatan Gitapala.
2. Bagian perlengkapan FTP UGM yang telah memberi kemudahan pada pencairan dana dan pemberian fasilitas untuk peralatan kantor Gitapala.
3. Sugeng “Pakdhe” Prihatin selaku Senat mahasiswa yang memberi jalan berdirinya Gitapala.
4. Pengurus majalah kampus Agrita kala itu yang paling intens dengan saya yaitu Widodo ‘86 dan Erista ‘86 yang telah memberi ruang kepada Gitapala untuk dapat mewartakan aktifitasnya kepada publik, khususnya civitas akademi FTP
5. Icuk ‘87 yang telah memberi kontribusi besar pada upacara peresmian Gitapala 11 Februari 1989 sebagai Decorator tempat upacara, “Cuk gaya gradasimu patut dipuji”.
6. Agus sandal ‘86, Ugi ‘87, Lilik ‘87, Agung Pathul ‘87 yang memberi kontribusi pada pementasan Ketoprak Gitapala “Roro Jonggrang” juga Adi ‘88 (Trim’s atas tape double-cassettenya untuk ngrekam musik ketoprak).
7. Anton ‘87 terima kasih foto-fotonya.
8. Orang-orang yang pernah mendiklat saya, yaitu mas Gendon Mapagama (Trim’s mas atas ilmu kreatifitas pecinta-alamnya), mas Bugie Mapagama (Trim’s atas penjelasan Hakekat pecinta-alamnya).
9. Pipit Cs. Mapagama (Trim’s atas presentasinya pada hari peresmian Gitapala.
10. Para simpatisan Gitapala :
· Fotonya terpampang pada Tracking Alas Bingung, yaitu : mas Bugie Mapagama, Ayat Mapagama, Jabrik Majestic 55.
· Ikut rapat pembentukan Gitapala di pos “Rudal” Merapi, yaitu : Yuni gendut, Maria, dan Yuni cempluk semua anggota Mapagama
· Pernah bareng naik gunung, yaitu : Rita dan satu temannya saya lupa namanya PHP ‘86, Indah PHP ‘87, Cewek berambut kriting (saya lupa namanya) Psikologi ‘86, Salim TK ‘87.
· Johar ‘85, Ajie ‘86, Orba ’87 trim’s partisipasimu dalam dayung. Anik ‘87, Ari Bun ‘88, Ari ‘89, Widi ‘89 (Kamu adalah bunga-bunga yang pernah menyemarakkan Gitapala)
11. Serta semua orang yang merasa punya kontribusi yang belum saya sebutkan, maaf bila kurang berkenan.
[GP *())!]