Sabtu, 26 Juli 2008


SEBUAH SURAT TERTANGGAL 19-12-2005 *)

Kawanku,
Aku tiba-tiba teringat kembali masa kuliah dulu. Kuteringat kamu, dosen-dosen, tentang keseriusan mereka, kelucuan mereka, dan keceriaan mereka. Kuteringat praktikumnya pak Daryono yang sampai larut malam, Bu Tuti yang kalau ngasih kuliah suka bagi-bagi permen, kita thethek di depan 108, baca Tempo dan KR di perpus, mejeng di kursi anti stres sambil nggodain cewek, juga ingat Kalitirto dengan Zetornya.
Kawan, ingatkah kau ketika dulu kita sering nglembur laporan praktikum bareng-bareng, juga nggarap soal ujian untuk esoknya dan sampai berulang kali buat proposal tugas akhir karena ditolak melulu..
Ah, rasanya saat ini aku rindu kalian semua, seolah-olah aku menyesal berpisah dengan kalian, meninggalkan kampus tercinta. Walaupun saat itu aku benar-benar bertekat lepas dari orang tua untuk mencoba tegak di atas kedua kaki sendiri. Tanpa sadar akhirnya kita masing-masing menjalani hidup yang sebenarnya.
Hidup dengan jiwa raga sendiri menjadi penopang diri sendiri.
Kawan, hatiku terasa bergetar oleh kerinduan yang dalam ini. Aku ingin kembali membuka-buka lembaran masa lampau.
Sungguh indah, orang-orang berjalan dengan langkahnya, masing-masing peristiwa manis-pahit silih berganti. Aku melihat kehidupan ini benar-benar indah karena penuh aneka ragam kejadian. Kita berjumpa-berpisah dengan kawan, guru, dosen, dan keluarga. Kelahiran dan kematian terjadi setiap saat.
Kawan, kita kadang gembira-tertawa naik kereta gemerlapan. Suatu saat kita tersuruk-suruk bertelanjang kaki di bawah terik Matahari atau basah kuyup di bawah hujan badai.
Kita kadang berjalan tenang bersama angin sejuk segar, tapi suatu saat tergelincir, terperosok bahkan terpelanting karena jalan miring, curam dan angin membadai.
Inilah hidup.
Sakit-sehat, sedih-gembira silih berganti. Namun demikian jiwa harus selalu sadar untuk menghadapi semuanya. Jiwa yang sadar akan selalu tegar dan segar menempuh aneka ragam dinamika kehidupan. Kita harus melangkah maju meskipun untuk itu kita alami penderitaan. Tak ada yang perlu dihindari karena hanya akan membuat kita menyesal nanti. Kita tak tahu kapan kematian datang, mungkin esok lusa atau barangkali nanti. Karena itu nikmati setiap detik dengan segenap jiwa raga sebelum kematian merenggut kita.
Kawan, aku ingat, kau pernah berkata bahwa kehidupan ini keras dan menyakitkan.
Kau berkata, kita dilahirkan untuk menderita. Tapi sekarang aku melihat bahwa hidup ini indah dan menyenangkan karena hidup ini dihiasi dengan pukulan-pukulan, kesakitan-kesakitan yang kadang mendera kita. Hidup ini menyenangkan karena kita ditantang oleh kesulitan-kesulitan, penderitaan-penderitaan agar kita dapat menunjukkan eksistensi manusia yang sebenarnya. Tanpa kesulitan-kesulitan dan penderitaan kita tak akan dewasa, tak akan berkembang dan sulit mengenal diri.
Yah, sesungguhnya kesulitan dan penderitaan adalah kawan yang paling mengesankan. Itulah yang saat ini kulihat.
Kawan, tentu kau sudah mengetahui bahwa dunia ini tak ada yang kekal. Begitu pula dengan kesulitan-kesulitan yang kita alami, kesakitan-kesakitan yang kita derita. Setiap saat terjadi perubahan yang terus berjalan bagaikan air. Kau lihat sungai kadang kotor penuh sampah tapi suatu saat akan kembali jernih. Begitulah hidup.

Rehat :

Honesty is the first step to a true success

It’s better have ever do mistake couse they have done anything
than
never do mistake couse they do nothing

Karena itu kita harus menikmati setiap detik dengan sepenuh hati, apapun yang terjadi. Apa yang sudah lewat tak akan pernah kembali. Jangan sampai kita menangis di akhir perjalanan, cepat atau lambat perjalanan ini akan berakhir.
Kawan, baru saat ini aku menyadari betapa besar Kasih Tuhan. Sungguh besar berkah yang dilimpahkan-Nya dan hidup adalah berkah Tuhan yang terbesar. Jangan sampai kita lewatkan tanpa arti. Kita lahir menangis karena kita akan memulai suatu perjalanan yang belum kita mengerti. Sesuatu yang asing akan kita jalani. Mudah-mudahan kita tersenyum di akhir perjalanan karena telah berhasil menyelesaikan segalanya.
Ah..., kukira cukup di sini surat ini semoga kau tidak bosan membacanya. Berdiri tegak dan nikmati apa yang terjadi. Hadapilah semuanya dengan segenap imanmu, kau akan merasakan bahwa hidup ini sangat menyenangkan.

*) Disadur dari Booklet biodata MP ’86 yang disusun oleh Wahyu Purnomo tahun 1992

Tulisan di atas sangat tergraffity di hati, karena booklet itu disusun saat MP ‘86 akan berpisah, di saat aku berada di persimpangan jalan dan kehilangan kompas. Di saat aku lebih banyak memikirkan diriku sendiri. Di saat itu kawan-kawan MP ‘86 justru dengan tulus membuat acara perpisahan. Hal itulah yang membuat kejadian waktu itu sangat mengesankan.
Kalau kita cermati benang merah tulisan di atas adalah bercerita perihal ‘kehidupan’ dan mungkin juga ‘perjuangan’.
Sering kita dengar pernyataan dari orang-orang bijak bahwa “Hidup adalah perjuangan.” Menurutku memang benar hidup adalah perjuangan karena manusia mempunyai banyak kebutuhan. Jadi manusia harus berjuang memenuhi kebutuhan agar dapat mempertahankan hidup dan punya eksistensi. Kebutuhan manusia banyak dan bertingkat. Dari mulai kebutuhan yang paling mendasar yaitu makan dan minum hingga kebutuhan untuk berprestasi dan beraktualisasi. Untuk mencukupi kebutuhan dasar mungkin bagi kita belum begitu menjadi beban. Tapi bagi sebagian mereka tentu lain. Anak jalanan rela berpanas-panas di perempatan jalan, preman rela saling membunuh karena memperebutkan lahan, buruh pelabuhan rela memanggul beban berat, pedagang sayur rela bangun dini hari, para PSK rela menjual harga diri, dan pencuri berani menghadapi resiko dibakar hidup-hidup. Jadi benar hidup harus berjuang agar survive. Tapi seperti disebutkan di atas menurut Maslow hidup tidak hanya sekedar makan dan minum tapi juga butuh rasa aman-tentram, butuh bersosialisasi, berprestasi, dan beraktualisasi Sehingga saya sangat tidak setuju dengan ungkapan Jawa yang salah kaprah yaitu : Urip iku ibarate mampir ngombe. Hidup tidak hanya sekedar mangan lan ngombe. Kalau yang terjadi demikian tidak ada bedanya manusia dengan binatang.
Di dalam sebuah buku suci terdapat ungkapan lain tentang manusia hidup, yaitu manusia adalah Kolifah (Pemimpin) di bumi. Sehingga manusia diberi kuasa penuh untuk mengelola semua sumber daya yang ada di atas bumi agar lestari dan dapat menghadirkan suatu produk yang bermanfaat bagi manusia itu sendiri. Maka agar dapat mengelola dan menghadirkan suatu kemanfaatan, manusia harus berilmu. sedangkan ilmu harus diperoleh dari belajar dan berfikir. Dengan demikian manusia hidup tidak sekedar mampir ngombe tapi juga berfikir dan berbuat. Selain itu kalau hidup ini hanya untuk ngombe dan ngombenya “melampaui batas” maka bisa mendem. Dan mendem itu adalah suatu proses yang terhenti atau perjalanan waktu tanpa arti. Maka kalau manusia hidup hanya mangan lan ngombe atau bahkan jadi mendem maka dia telah gagal membawa misinya sebagai makhluk yang diberi mandat untuk menjadi manajer di bumi.
Dulu setelah lulus kuliah saya pernah mencoba untuk dapat mandiri. Saya baru sadar ternyata idealisme kampus yang selama itu aku agungkan tidak sejalan dengan realita kehidupan masyarakat. Atmosfir kehidupan yang bertempo cepat, materialistis, kompetitif, dan kehidupan masyarakat dengan budaya-budaya adiluhung yang nyaris hilang, membuat saya tahu dan merasakan, memang benar hidup adalah perjuangan.
Dalam suatu meeting di kantor tempat saya bekerja ada seorang direktur mengeluarkan statemen demikian “berani hidup atau berani mati.” Ungkapan tersebut di itu sangat berkesan dan menjadi bahan perenunganku. Ternyata ‘berani hidup’ konsekwensinya lebih berat. Sebab berani hidup harus berani ngedan agar keduman (Ronggo Warsito) dan ini tentu saja melawan nurani. Contoh kongkrit adalah Pak Harto yang mantan Presiden itu, jika dulu beliau gugur pada pertempuran serangan umum 1 maret, tentu foto-fotonya masih terpampang dalam buku-buku sejarah sebagai pahlawan Kemerdekaan. Namun pak Harto ‘berani hidup’ bahkan menjadi presiden selama 32 tahun. Selama menjadi presiden tak ada seorangpun yang berani membangkang, dieluk-elukan dan ‘dijilat’. Karena ‘berani hidup’ dan bejo pak Harto menjadi kurang eling lan waspodo (kata para paranormal sih...). Hingga akhirnya beliau dilengserkan oleh serentetan demonstrasi mahasiswa. Setelah lengser semua orang menghujat termasuk orang-orang yang pernah dekat dengannya. Itulah konsekwensi berani hidup. Bahkan Soe Hok Gie anggota mapala UI yang gugur di gunung puncak Semeru, sewaktu jenazahnya di evakuasi, dalam sakunya ditemukan coretan tulisan tangannya sebagai berikut “Manusia yang paling beruntung adalah manusia tidak pernah dilahirkan atau dilahirkan tetapi mati muda dan alangkah tidak beruntungnya orang yang hidup sampai tua tetapi tidak pernah melakukan sesuatu apapun.” Itulah Soe Hok Gie, entah dia meninggal kedinginan atau menghirup gas beracun atau sebab lain, tetapi yang jelas dia telah menyelam sangat dalam di dalam samodra kehidupan.

Rehat :
Urip-uripen anggonmu kumpul-kumpul, nanging ojo nggantungake urip soko kumpul-kumpul
(welinge mbah Gito)

Maka kalau ada pertanyaan berani hidup atau berani mati di tengah kesulitan ekonomi? jawab yang tepat untuk saat ini adalah ‘terus hidup’ karena pada hakekatnya di dalam kesulitan ada kemudahan dan di dalam cobaan ada hikmah. Selain itu kita sudah tidak sedang berperang melawan penjajah tetapi kita tengah berperang melawan diri kita sendiri. Diri kita yang malas, yang suka seenaknya, tidak didiplin, lebih banyak menghabiskan waktunya untuk ngegame daripada berkarya bikin pemrograman, suka menuntut hak tetapi tidak tahu kewajibannya, yang pingin naik mobil mewah, suka makan enak, ingin selalu punya uang banyak, pakai pakaian perlente, punya rumah bagus,tapi malas kerja keras dsb.
Dan....... rasanya kok baru kemarin saya lulus dari FTP. Tiada yang abadi, ada perjumpaan ada pula perpisahan, inilah saat yang tepat untuk berpisah. Mohon doa restu aku akan mencoba lagi hidup dengan menghidupi diri sendiri dan bereksistensi dengan memberi kontribusi pada aktifitas kehidupan masyarakat.
Harapan saya semoga Gitapala tetap menjadi organisasi yang berdaulat dan berkomitmen kuat.
Selamat merintis masa depan semoga kamu menjadi manusia yang beruntung, hidup hingga tua dan berbuat sesuatu, sukses membawa mandat sebagai manajer di atas bumi. Amin

Memory

Angkatan ‘84
Simbah (Mbah, putumu wis piro?)

Angkatan ‘85
Agus Hamiyanto (“Makanya kalau naik gunung bawa celana cadangan, tapi pulang naik gunung pakai sarung lebih berkesan”), Ndaru (Sori ra-diomu tak ilangke), Harsono (Trim’s atas bantuannya waktu di Serpong), Hendro (Trim’s atas pengadaan parka Gitapalanya) Anton, Happy, Yuni, Iin menwa, Lia dll (Terima kasih semuanya atas bantuan dan partisipasinya waktu itu).

Angkatan ‘86
Agus Rambo (Piye kabare Novi), Agus Pete (Te, anakmu saiki wis piro?), Febru Cahyono (Trim’s ide nama Gitapalanya dan bantuan tulusnya waktu itu), Jemek (Yang paling kuingat dengan kamu adalah ketika kamu terserang Mountain sickness di Sumbing “Makanya jangan banyak tingkah”) Wiwin (Win trim’s ya... rancangn renungan dari filsuf Kahlil Gibran waktu itu, sori tak jadi dibaca, kamu adalah sekretaris yang sangat berdedikasi), Bebe (Trim’s design logo Gitapalanya), Hari brengos (Jianjuk! Kon saiki ono ngendi).

Angkatan ‘87
Tiyok (Yo, aku bisa merasakan, ngurus pemanjat memang susah, masang jalur memang menyengsarakan, mondar-mandir ngurus segala sesuatu memang melelahkan, trim’s atas kerjasamanya, trim’s juga atas dana talangan dari tabunganmu untuk menalangi dana yang belum turun, trim’s lagi atas pemberian bordir logo Gitapalanya. Peranmu sebagai Bandung Bondowoso dan Ande-ande lumut di ketoprak Gitapala sangat mengesankan. Salam buat budhemu, trim’s atas sarapan paginya waktu itu), Bowo (Wo rancangan Wall-mu pancen apik, jip willismu sing kocone pecah kesodog papan kae saiki no ngendi), Gono (Gon, crito-crito sarune kapan diterbitke dadi buku, trim’s atas dedikasinya sebagai sie konsumsi di LPD YT ‘90))

Angkatan ‘88
Ponco (Co, sengsara karena kerja keras memang indah. Teh Pocimu neng Srikaton ngangeni), Irvan (Van kowe saiki ono ngendi), Santi (Kamu adalah bendahara Gitapala yang paling jarang pegang uang karena memang belum punya banyak uang kas, trim’s atas kerjasamanya), Danik (Nik, piye kabare penghijauan neng Randu-gunting, isih urip opo ora), Yung & Rustam (Yang paling ciamik dengan kamu adalah ketika kita sama-sama taklukkan Merapi), Wiwik (Wik, trim’s banyak atas akomodasi dan transportasinya waktu cari dana ke Semarang), Seno (Yang paling berkesan dengan kamu adalah ketika kita sering latihan manjat di Babarsari dan kekurangan peralatan kamu memberi webbing dari cangklongan tas), Rudi ( Trim’s atas nganternya proposal ke Graphic adv.), Si awak kapal “Pinisi Amanagapa” Basam (Trim’s semangkanya waktu di Glagah, You are a sweet sangarman), Andrian (Trim’s sumbangan Karabiner besinya). Anung (Trim’s sumbangan Chalk bagnya), Brintik (Gaya manjatmu memang sangat menawan), Dharmawan (Kalau ndayung jangan ngoyo), Bagus (Trim’s atas bantuannya masang jalur waktu malam final LPT Yogya Terbuka ‘90 sori aku tidur waktu itu, trim’s juga atas bantuan transportasinya waktu cari dana ke Semarang), Yayak (Trim’s atas bantuan fasilitas penunjang kegiatan)

Angkatan ‘89
Inti, Krisna (Kris kamu bakat dadi pemain ketoprak, peranmu sebagai Roro Jonggrang patut diacungi jari gemuk), Hanik, Novi (Agus Rambo yang paling pantas komentar)

Angkatan ‘90
Mad, Supri, Dodo, Maong, Yani dll. Sori aku nggak banyak kenangan manis dengan kalian, abis saat kalian datang aku sudah harus pergi.

Anak-anak PMI Mas Awang, Manyul, Pun-pun (Sori aku telah menyengsarakan kalian waktu LPT Yogya Terbuka ‘90, trim’s atas bantuannya, tanpa kalian acara LPT YT ‘90 ra mlaku).

Anak-anak Sekber Muslak dkk (Slak trim’s atas peminjaman tustel waktu kegiatan Tracking Gitapala di Alas Bingung, juga bantuannya sebagai belayer), Uni (Anakmu wis piro).

Terima kasih juga kepada :
1. Pak Rektor, Pak Zuheid Nur dan Pak Bambang Kartika sebagai Dekan dan PD III (“Maaf pak saya merepotkan”).
2. Pak Widodo yang telah memberi ijin peminjaman peralatan las (“Maaf pak waktu itu saya ujas-ujus nggak pakai surat resmi habis nggak punya waktu sih”), juga mas Bambang Cs. (komunitas bengkel) yang telah mengelas wallnya sekber karena pada jebol.
3. Mas Wahyu lab listrik yang telah memberi bantuan kabel olor dan sambungan setrum.
4. PMI Yogya yang telah memberi bantuan ambulance dan tenaga teknis (“Maaf crewmu tertelan-tarkan”)
5. Komunitas Mapala DIY yang telah memberi pinjaman peralatan.
6. Para panitia LPT YT ‘90 yang tak mungkin saya sebutkan satu-persatu.
7. Warga FTP UGM kala itu yang turut memberi support.
8. Asep Kehutanan (“Trims atas bantuan sebagai belayer)
9. Akur optic (Maaf pak Ali Maskur bila waktu itu kurang berkenan dengan penyajian kami), Jas Taksi, Elok swalayan, Graphic Adv., Radio Rakosa FM, Duta Photo, Hartom souvenir sebagai penyumbang dana.
10. Pemberi pinjaman Matras, tali serat untuk nyencang wall dan lampu spot yang dipinjam oleh Agus Rambo dan Agus Pete, entah dari mana mereka meminjam. Juga bambu untuk masang spanduknya Elok swalayan.
11. Sopir truk sampah UGM yang telah ngangkut wall dari Sekber-FTP PP.
Tanpa orang-orang tersebut di atas LPT YT ‘90 mungkin tidak dapat terselenggarakan.

Terima kasih juga kepada orang-orang (yang mungkin belum tersebut di atas) yang turut memberi kontribusi pada proses kelahiran dan pembesaran Gitapala.

1. Bapak Bambang Kartika selaku PD III yang memberi ijin untuk berdirinya Gitapala dan secara aktif mendukung setiap aktifitas kegiatan Gitapala.
2. Bagian perlengkapan FTP UGM yang telah memberi kemudahan pada pencairan dana dan pemberian fasilitas untuk peralatan kantor Gitapala.
3. Sugeng “Pakdhe” Prihatin selaku Senat mahasiswa yang memberi jalan berdirinya Gitapala.
4. Pengurus majalah kampus Agrita kala itu yang paling intens dengan saya yaitu Widodo ‘86 dan Erista ‘86 yang telah memberi ruang kepada Gitapala untuk dapat mewartakan aktifitasnya kepada publik, khususnya civitas akademi FTP
5. Icuk ‘87 yang telah memberi kontribusi besar pada upacara peresmian Gitapala 11 Februari 1989 sebagai Decorator tempat upacara, “Cuk gaya gradasimu patut dipuji”.
6. Agus sandal ‘86, Ugi ‘87, Lilik ‘87, Agung Pathul ‘87 yang memberi kontribusi pada pementasan Ketoprak Gitapala “Roro Jonggrang” juga Adi ‘88 (Trim’s atas tape double-cassettenya untuk ngrekam musik ketoprak).
7. Anton ‘87 terima kasih foto-fotonya.
8. Orang-orang yang pernah mendiklat saya, yaitu mas Gendon Mapagama (Trim’s mas atas ilmu kreatifitas pecinta-alamnya), mas Bugie Mapagama (Trim’s atas penjelasan Hakekat pecinta-alamnya).
9. Pipit Cs. Mapagama (Trim’s atas presentasinya pada hari peresmian Gitapala.
10. Para simpatisan Gitapala :
· Fotonya terpampang pada Tracking Alas Bingung, yaitu : mas Bugie Mapagama, Ayat Mapagama, Jabrik Majestic 55.
· Ikut rapat pembentukan Gitapala di pos “Rudal” Merapi, yaitu : Yuni gendut, Maria, dan Yuni cempluk semua anggota Mapagama
· Pernah bareng naik gunung, yaitu : Rita dan satu temannya saya lupa namanya PHP ‘86, Indah PHP ‘87, Cewek berambut kriting (saya lupa namanya) Psikologi ‘86, Salim TK ‘87.
· Johar ‘85, Ajie ‘86, Orba ’87 trim’s partisipasimu dalam dayung. Anik ‘87, Ari Bun ‘88, Ari ‘89, Widi ‘89 (Kamu adalah bunga-bunga yang pernah menyemarakkan Gitapala)
11. Serta semua orang yang merasa punya kontribusi yang belum saya sebutkan, maaf bila kurang berkenan.


[GP *())!]

Minggu, 04 Mei 2008

PEWACANAAN



PENYEMPURNAAN LANJUT
DRAF PROPOSAL PEMBENTUKAN
K.A.G.I


I. PENDAHULUAN
Globalisasi perdagangan barang dan jasa yang didukung revolusi teknologi informasi, transformasi dan komunikasi telah menjadikan batas-batas teritorial antar negara semakin maya. Jarak dan waktu tidak lagi menjadi kendala bagi pergerakan pelaku bisnis, dan bisnis itu sendiri. Transaksi ekonomi dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja serta oleh siapa saja. Indonesia sebagai bagian dari masyarakat dunia, tentunya tidak bisa melepaskan diri dari perkembangan globaliasi itu sendiri. Sebab, konsekuensi globalisasi mengarah kepada interdependensi antar negara, akselerasi pergerakan dunia usaha, kebutuhan sumberdaya manusia yang dinamis, inovatif, dan komunikatif. Di samping itu struktur pasar akan cenderung menjadi bentuk pasar persaingan sempurna dengan berbasis kepada teknologi informasi, kesempurnaan kualitas, kecepatan respon, dan ketepatan pelayanan.
Saat ini kita telah memasuki era kesepakatan perdagangan bebas tingkat regional AFTA. Pengalaman krisis masa lampau semoga dapat dijadikan pemicu dan pelajaran berharga untuk segera bangkit dari keterpurukkan dan dapat mandiri lepas dari ketergantungan bantuan negara-negara donor dan tidaktidak didekte oleh kepentingan-kepentingan mereka.
Seperti telah disebutkan di atas konsekuensi untuk dapat menjadi pemain di pasar bebas dibutuhkan sumberdaya manusia yang dinamis, inovatif, komunikatif, kompeten dan profesional sehingga dapat menciptakan produk baik barang dan jasa yang berkualitas dan secara proaktif merespon perubahan-perubahan yang terjadi secara cepat dan tepat.
Dalam merespon perdagangan bebas yang menuntut kita untuk bergerak cepat dan profesional, tentunya sebagai orang timur yang dikenal berbudaya tinggi kita tidak boleh larut pada pola pikir materialisme absolut. Atau dengan kata lain semua aktifitas yang kita kerjakan atas dasar untung-rugi materi yang sempit tanpa menghiraukan kepentingan publik pada umumnya. Untuk itu guna memberi wadah rasa persaudaraan dan terus menyambung tali silaturohmi di antara alumni Gitapala dan untuk menuju kemakmuran bersama maka dirikan Koperasi Alumni Gitapala ‘KAGI’.

II. VISI
Kemandirian komunitas-komunitas di masyarakat menopang kemandirian Nasional.

III. MISI
1. Memberi wadah rasa persaudaraan sehingga akan terus tersambung tali silaturohmi di antara alumni Gitapala.
2. Mencapai kemakmuran bersama.
3. Menumbuhkan jiwa kewira-usahaan

IV. ASAS
Setia kawan, Gotong royong, kekeluargaan

V. BIDANG USAHA
1. Simpan pinjam
2. Rental peralatan kepencinta-alaman
3. Pemandu dan/atau akomodator wisata alam (Traveling, tracking, camping, paket arung jeram 4. Outdoor education/Out bound for children)
5. Out bound trainer
6. Dan lain-lain

VI. PANGSA PASAR
1. Pelajar dan Mahasiswa
2. Karyawan kantor
3. Wisatawan

VII. PERANGKAT KAGI
1. Rapat Anggota
2. Dewan Pengawas/penasehat
3. Pengurus Harian

VIII. PENGELOLAAN
· Pengelolaan
1. Kedaulatan tertinggi ditangan Rapat Anggota sehingga berhak menujuk Ketua Pengurus Harian dan Dewan pengawas.
2. Dalam menjalankan tugasnya sehari-hari Pengurus harian diawasi oleh Dewan Pengawas.
3. Dewan pengawas melakukan pengawasan kepada Pengurus harian dalam menjalankan tugasnya.
4. Dewan pengawas berhak menegur dan/atau mengadakan rapat anggota luar biasa apabila ternyata ada penyimpangan-penyimpangan.
5. Nilai SHU tiap anggota
= Total Laba x %(simp. tiap anggota / Total simpanan)
6. Besar simpanan dan iuran*)
Iuran sukarela untuk pengadaan peralatan
: Minimal Rp 100.000,-
maksimal tidak dibatasi.
Simpanan pokok : Rp 10.000,- /anggota
Simpanan wajib : Minimal Rp 5.000,-/anggota/bulan
*)Catatan iuran tidak sama dengan simpanan

IX. TEKNIS SIMPAN DAN PINJAM
1. Simpan
* Untuk dapat melakukan aktifitas simpan pinjam di KAGI, maka alumni Gitapala harus menjadi anggota lebih dahulu.
* Syarat untuk menjadi anggota KAGI, yaitu alumni Gitapala lebih dahulu membayar iuran pengadaan peralatan dan membayar simpanan pokok. Kemudian mengisi formulir keanggotaan KAGI.
* Simpanan wajib dibayarkan setiap satu bulan sebesar Rp 5.000,-
* Sedangkan simpanan sukarela dapat dibayarkan kapan saja dan besarnya tidak ditentukan. Simpanan sukarela dapat dibayarkan bersamaan dengan simpanan wajib, yaitu apabila ada anggota membayar simpanan wajib di atas 5.000,- maka kelebihannya otomatis masuk ke simpanan sukarela.
2. Pinjam
* Peminjaman untuk kebutuhan mendadak (sebrakan) dan segera dilunasi dalam waktu tidak lebih satu bulan dikenai bunga 2%.
* Peminjaman untuk tambahan modal usaha atau kebutuhan lain dengan pengembalian secara diangsur setiap bulan. Jumlah angsuran (pinjaman + bunga) maksimal adalah 10 kali dan dikenai bunga 1% dari nominal awal.
* Apabila karena sesuatu hal pada bulan tertentu terpaksa tidak dapat mengangsur bunganya wajib dibayar.
* Biaya administrasi peminjaman 1% dari total pinjaman dan masuk kas harian.

X. PERINTISAN DAN RANCANGAN OPERASIONAL KOPERASI
1. PEWACANAAN, Untuk pewacanaan dibuat rancangan proposal pembentukan KAGI dan dikirim kepada alumni di beberapa kota di Indonesia. Kemudian rancangan proposal dipublikasikan melalui internet pada sebuah situs/blog yang dilengkapi dengan milis sehingga setiap alumni dapat saling berkomunikasi dan memberi masukkan.

2. RAPAT UMUM, Rapat umum yang nantinya bernama rapat anggota adalah perangkat tertinggi di koperasi untuk mengambil keputusan-keputusan. Dalam mengambil keputusan diutamakan dengan cara musyawarah untuk mufakat. Tetapi apabila dengan cara musyawarah belum dapat mengambil keputusan maka ditempuh dengan cara voting. Agenda utama dalam rapat umum nanti adalah menggodok draf proposal yang sudah diwacanakan menjadi sebuah proposal jadi.

3. PENGORGANISASIAN ANGGOTA,alumni Gitapala yang sudah mapan (telah berkeluarga atau sudah punya penghasilan) sangat layak sebagai anggota koperasi. Pendaftaran sebagai anggota adalah dengan membayar iuran pengadaan peralatan dan simpanan pokok. Penyumbang iuran terbesar berhak mendapatkan nomer keanggotaan yang pertama yaitu KI/01/001 Karena anggota KAGI tersebar di seluruh Indonesia, maka guna mempermudah operasional kita buka rekening di bank (bank yang pilih yaitu bank yang mempunyai banyak cabang dan minimal ada di setiap kota kabupaten selain itu juga mempunyai fasilitas transfer paling maju terutama ATMnya) sehingga anggota yang jauh dari Yogya dapat membayar simpanannya melalui transfer antar rekening baik melalui ATM, HP, ataupun melalui internet.
4. DIVERSIFIKASI USAHA, Di samping bidang usaha simpan pinjam, untuk lanjutan dibuka juga bidang usaha lain yaitu Rental peralatan kepencinta-alaman. Peralatan yang direntalkan terutama yang nantinya menunjang bidang usaha selanjutnya (wisata alam dan out bount) yaitu : Tenda, sleeping bag, ransel, matras, peralatan masak, peralatan penerangan, dll. Sedangkan peralatan seperti tali karmantel, karabiner, krol, figur 8, askender, deskender, webbing, sit harnes, dll. diusahakan nanti.
5. Untuk pertama kali pembelian peralatan dengan menggunakan uang hasil iuran anggota direncanakan sebagai berikut :
· 10 Ransel 60 l @ Rp 250.000,- = Rp 2.500.000,-
· 10 Ransel 80 l @ Rp 275.000,- = Rp 2.750.000,-
· 10 Tenda dom @ Rp 350.000,- = Rp 3.500.000,-
· 10 Matras @ Rp 10.000,- = Rp 100.000,-
· 10 Sleeping bag @ Rp 100.000,- = Rp 1.000.000,-
· 10 set alat masak @ Rp 75.000,- = Rp 750.000,-
· 10 Senter @ Rp 50.000,- = Rp 500.000,-
Total = Rp 11.100.000,-

6. Kemudian setelah simpan pinjam dan rental sukses maka kemudian dirintis usaha tour leader wisata alam, Outdoor education for children dan Out-bound trainer.
7. Untuk dapat selalu menjalin komunikasi antar anggota dan pengurus maka kita buka web-site KAGI yang berisi tentang visi-misi KAGI, daftar anggota, simpanan tiap anggota, e-mail, berita-berita KAGI, dll.
8. Sedangkan untuk peminjaman uang oleh anggota yang berada jauh dari Yogya teknisnya di atur nanti setelah koperasi benar-benar mapan.
9. Semua bidang usaha selain simpan-pinjam sebelum ditawarkan ke publik akan diuji coba dengan melibatkan anggota KAGI. Setelah diuji coba dan di evaluasi dan telah terbuat konsep yang matang kemudian baru ditawarkan kepada publik.

XI. KEANGGOTAAN
Anggota KAGI adalah semua alumni Gitapala tanpa kecuali yang telah selesai studi dengan ketentuan sebagai berikut :

1. Calon Anggota (Cata)
· Anggota yang baru saja selesai studi, sudah membayar iuran sukarela untuk peralatan tetapi belum melakukan aktifitas simpan-pinjam.
· Dalam rapat anggota belum mempunyai ‘suara’ dan belum mendapat SHU.
· Karena sudah terdaftar sebagai anggota tetapi belum mempunyai hak sebagai anggota penuh maka boleh disebut sebagai MAGANG. Apabila ada proyek dapat diikut-sertakan sebagai pembantu pelaksana.

2. Anggota Aktif
· Adalah anggota yang sudah cukup lama bergabung di KAGI tetapi belum mempunyai pekerjaan mapan di luar KAGI.
· Sudah melakukan aktifitas simpan-pinjam sehingga bisa mendapatkan SHU
· Dapat diangkat menjadi anggota pengurus harian sehingga apabila menjadi pengurus berhak mendapatkan uang lelah/uang pengabdian atau Jasa usaha pada setiap tutup buku (akhir tahun).
· Dapat ditunjuk oleh pengurus harian menjadi pelaksana proyek atau pimpro dalam sebuah proyek dan mendapatkan uang saku.
· Diprioritaskan menjadi pengurus harian dan pelaksana apabila ada proyek.

3. Anggota Senior
· Adalah anggota yang sudah aktif simpan-pinjam dan mempunyai pekerjaan tetap, mapan dan sudah berkeluarga.
· Sudah melakukan aktifitas simpan pinjam sehingga bisa mendapatkan SHU
· Diprioritaskan menjadi anggota dewan pengawas/penasehat dan ketua pengurus harian (cooperation directore).

*)Catatan : Pada periode perintisan istilah honor dan uang pengabdian belum diberlakukan.


XI. PRAKIRAAN SUSUNAN KEPENGURUSAN PERIODE PERINTISAN
1. Ketua
· Bertanggung jawab dengan kelangsungan aktifitas koperasi.
· Mengkoordinir semua pengurus yang dipimpinnya sesuai jobnya masing-masing sehingga tidak terjadi saling tumpang tindih.
· Yang paling berhak memberi keterangan kepada publik dan berhubungan dengan pihak luar baik perorangan atau badan hukum berkaitan dengan koperasi yang dipimpinnya.

2. Sekretaris
Bertanggung jawab dengan administrasi dan surat-menyurat dengan pihak luar.

3. Bendahara*)
Bertanggung-jawab dengan keuangan dan aset koperasi.

4. Divisi simpan pinjam
Bertanggung jawab dengan aktifitas simpan pinjam

5. Divisi peralatan
Bertanggung jawab dengan peralatan out door activity, termasuk manajemennnya apabila disewakan.

6. Divisi IT
Bertanggung jawab dengan situs Koperasi termasuk pengUP-DATEtannya sehingga situs selalu up to date dan tidak membosankan.

7. Divisi Humas dan Keanggotaan
Bertanggungjawab dengan masalah keanggotaan koperasi dan hubungan kemasyarakatan (publik).

8. Divisi Pengembangan usaha koperasi dan pemasaran
Bertanggungjwab dengan rencana pengembangan bidang usaha koperasi yaitu : Pemandu wisata alam, out bound, out door education for children, dll.
*)Catatan : Untuk periode perintisan Bendahara merangkap Kadiv. Simpan pinjam

XII. SANKSI BAGI ANGGOTA
Setiap persoalan yang muncul diupayakan untuk diselsaikan secara kekeluargaan namun apabila sudah mentok dapat diselesaikan melalui jalur hukum.
Sedangkan mengenai keanggotaan KAGI, anggota dapat dikeluarkan dari anggota apabila :
1. Terus menerus melakukan pelanggaran dan/atau berkianat terhadap KAGI
2. Terus menerus melakukan pelanggaran hukum positif di Indonesia dan divonis penjara oleh Hakim sehingga merusak nama baik KAGI.
3. Terus menerus malukan perbuatan tercela.
4. Nyata-nyata mempunyai itikat tidak baik di KAGI.

XIII. PROSES PENJATUHAN SANKSI
1. Apabila ada anggota yang melakukan perbuatan seperti tersebut pada Romawi VIII pengurus harian dapat melakukan teguran langsung atau melalui surat.
2. Apabila teguran tidak diindahkan oleh yang bersangkutan maka pengurus harian dapat mengusulkan Rapat Anggota luar biasa kepada Dewan pengawas/penasehat guna mengeluarkan yang bersangkutan sebagai anggota KAGI.