Rabu, 22 April 2009

Peran Entrepreneurship dalam Konsep pendidikan anak bangsa

Konsep pendidikan bangsa Indonesia saat ini sangat berorientasi “degree formal” yang tentunya sangat didominasi oleh kecerdasan otak kiri. SDM diarahkan menuju pekerja, baik pekerja kasar, trampil, maupun pekerja elit. Sebenarnya kondisi ini kurang sehat. Apabila pada tahun 2030 bangsa Indonesia menjadi pemain dunia dengan sekitar 70 sampai 80 juta angkatan kerja memiliki pekerjaan yang bagus, tentu saja waktu itu Indonesia memiliki perusahaan kaliber nasional dan International. Siapa pemilik perusahaan itu, semua orang asing atau 80% milik bangsa Indonesia. Kalau ingin 80% perusahaan milik anak bangsa maka tahun 2030 Indonesia harus memiliki entrepreneur sukses beberapa juta orang. Dengan demikian kondisi pendidikan saat ini harus diimbangi dengan pendidikan berorientasi Otak kanan, soft skill, leadership, partnership, dan entrepneurship. Termasuk di dalamnya penekanan informasi tentang : i) Karakter eksponsial entrepreneur UMKM, ii) Pengalaman kehidupan interaksi sosial, iii) menerapkan teori partnership dalam hidup sehari-hari termasuk ketrampilan menggambarkan big picture permasalahan.
Manajemen yang menyeimbangkan rational scientific approach, dengan peran otak kanan, soft skill, leadership, partnership, banyak dijumpai di Jepang, Taiwan, dan Korea. Misalnya Honda Motor Corporation yang malang melintang selama 45 tahun sejak thun 1950-an mendapatkan prestasi gemilang tanpa gelar Ph.D. satupun, kecuali satu orang yaitu Sichiro Honda pendirinya, tetapi gelar tersebut adalah gelar Doktor honoris causa. Jadi leadership, partnership, dan entrepreneurship harus merupakan ingredient pokok dalam kurikulum bagi generasi pemimpin dan entrepreneur mendatang. Lebih jauh, penyelesaian melalui Entrepreneurship University juga dilirik perguruan tinggi karena dinilai sangat cerah masa depannya.
Pemikiran kita sehari-hari sudah sangat terpengaruh oleh cara berfikir Adam Smith sekitar 130 tahun yang lalu (1887) yang menyatakan bahwa “…….. setiap orang berbuat bagi dirinya” yang artinya orang tidak perlu bersusah-susah memikirkan orang lain. Jika setiap orang memikirkan dirinya sendiri, maka (kata Adam Smith) secara alami akan terjadi keseimbangan dan harmonisasi sendiri. Dalam “equilibrium dynamic” dikatakan akan ada invisible hand yang akan menyeimbangkan.
Pemikiran ekonomi ini telah berkembang terus, terutama oleh sekolah setingkat MIT yang mengembangkan Business dynamic, Harvard, Princeton, dll. Pemikiran dimulai dengan menanyakan tentang berapa lama keseimbangan akan terjadi. Mungkin model liniernya perlu dikembangkan lagi, untuk mempertimbangkan transient dan efek temporalnya yang jelas sangat dominan. Mestinya kita harus memperhatikan alasan Irving Fisher lewat modeling, dari klaim AC Pigou yang kualitatif.