KONSEP ORGANISME HIDUP
Manusia, kumpulan manusia, lembaga atau institusi apapun bentuknya yang melibatkan manusia atau kumpulan manusia di dalamnya, harus diperlakukan sebagai organisme hidup. Organisme hidup itu misalnya, koperasi, sentra industri, pasar tradisional, kelompok usaha kecil, kelompok-kelompok petani, dan kontras dengan mall, supermarket, hypermarket, super chain store, dsb.
Organisme hidup itu mempunyai 3 komponen, yang tanpa kelengkapan tersebut tidak berfungsi sebagai organisme hidup. Ketiga komponen tersebut yaitu :
1. Hard infrasrukture, 2. Soft infra structure, 3. komponen Roh atau Jiwa.
Poyek-proyek pembangunan era masa lalu untuk usaha mikro dan kecil (UMK) petani kecil dan entrepreneur baru”hampir semuanya gagal” karena program-program tersebut tidak meperlihatkan kondisi di Indonesia, dan sudah dianggap cocok seperti contoh-contoh text book, dan makalah dari negara-negara maju. Perancang dan pelaksana proyek lupa bahwa Amerika, Eropa telah terbangun selama ratusan tahun, sehingga perkembangan proyek dan proses pertumbuhan sudah berjalan dengan sendirinya.
Itulah sebabnya, proyek-proyek yang hanya menekankan pada hard infrastructure hanya dengan pertimbangan teknologi dan pertumbuhan ekonomi pada akhirnya akan menimbulkan masalah budaya, politik, dan psikologi. Persoalannya akan makin terakumulasi sehingga penyelesaiannya akan memerlukan cost sedemikian mahal.
Model organisme hidup ini mempertanyakan batas-batas keabsaan asumsi “ceteris paribus” yang selama ini dipakai dalam prediksi pelaksanaan proyek (sehingga pelaksana proyeknya termasuk kategori “ill-management”)
Untuk proses pembangunan selanjutnya, pelaksanaan proyek harus memperhatikan konsep oraganisme hidup, yang harus memliki tiga komponen tersebut. Proyek jembatan, jalan, tol, pelabuhan, dan lain-lain harus ditinjau sebagai sebuah organisme hidup pula, sehingga benefit ekonomi bangsa bisa optimal.
KONSEP ANTARA SPESIALIS DAN MAESTRO
Dalam dunia profesi, seperti dosen, pakar, ilmuwan, dokter, seniman lukis, tari, musik dikenal profesional spesialis. Kondisi seperti ini kurang menguntungkan untuk negara berkembang seperti Indonesia. Sistem ekonomi dan sistem pengembangan teknologi belum terbentuk. Bangsa ini masih memerlukan usaha membentuk sistem menuju sistem seperti kerangka daun. Bangsa ini memerlukan pakar spesialis-generalis, menuju terbentuknya supplay chain agar tercipta teknologi unggulan. Terbangunnya sistem supplay chain menuju system ekonomi handal. Teknologi-teknologi yang diperlukan untuk itu dalam buku ini disebut supplay chain technology, sedang konsep ekonomi yang diperlukan adalah supply chain economy. Bangsa ini memerlukan cukup banyak professional generalis, misalnya professor entrepreneurship, Profesor Psikologi Politik sehingga terbentuk strategi-strategi entrepreneurship bangsa, dan juga menghasilkan sebanyak mungkin politisi-politisi negarawan. Misalnya pakar profesionalis generalis diharapkan menjadi semaian Maestro-mastro bangsa. Pakar-pakar yang piawai dibidangnya, tetapi juga humanis, penuh empati, keagungan nila-nilai kemanusiaan.
Maestro lukis Affandi yang dikenal ekspresionis, mampu menghasilkan gambar naturalis, lembut dan indah. Demikian juga John Lenon ataupun Deep Purple, lagu-lagu klasik mereka lembut dan indah memukau, walaupun mereka musisi beraliran rock. Jadi, Insinyur, Hakim, ekonom, sejarawan, budayawan, dokter, politisi, yang ahli dalam ilmu spesialisasinya diharapkan juga menghayati soft science, memahami dan menerapkan nilai-nilai kemanusiaan, humanis, penuh empati, apalagi bangsa ini menjunjung tinggi ilmu ketimurannya. Landasan soft science ini yang akan menggayutkan dengan ilmu dan kepakaran lain, merajud sebuah supplay chain membentuk kepakaran baru dengan nilai-nilai kemanusiaan yang makin meningkat.
BELAJAR DARI PEDAGANG TANAMAN HIAS VS PEDAGANG IKAN HIAS
Sifat “non-linieritas” interaksi kumpulan, kelompok, gerombolan, kelembagaan, atau institusi akan tampak fenomenanya bila diamati dari pedagang tanaman hias. Gerombolan tanaman hias bila diguyur air, selain tanah menjadi basah juga akan timbul kelembaban udara oleh uap air karena lebatnya kanopi daun. Udara yang lembab akan menahan penguapan air dari daun, batang, dan bunga. Meski terkena terpaan sinar matahari langsung, gerombolan tanaman itu tidak mudah layu. Kelembaban ini akan hilang apabila gerombolan tanaman hias ini dipisah-pisahkan. Biaya pemeliharan tiap tanaman menjadi lebih mahal, apalagi tanaman dipelihara dalam pot-pot kecil.
Demikian ikan hias, apabila dipelihara dalam akuarium, banyak diperlukan sirkulasi air, ogsigen buatan, sistem pengolah racun dari buangan kotoran, secara artificial pula. Sama halnya dengan sebuah keluarga yang hidup di dalam kompleks perumahan mewah dengan penjagaan keamanan oleh Satpam. Selain diperlukan biaya operasional yang sangat mahal, kehangatan hidup yang diperoleh juga sangat minimal.