KONSEP KERANGKA DAUN
Pemerintah yang membiarkan industri mikro kecil, petani kecil, dan entrepreneur baru berjuang sendiri untuk membesar, sebenarnya sangat naïf. UMKM dibiarkan bertarung secara supplay demand melawan barrier of entry, pesaing dari luar maupun dari dalam dibiarkan bertarung dengan UMKM, menunjukkan bahwa pemerintah tidak memahami tugas-tugasnya.
Mungkin sangat naïf memahami pemerintah dari arti kata pemerintah sendiri sebagai “pemberi perintah”. Hubungan pemerintah dan UMKM adala hubungan kemanusiaan. Demi keadilan membantu yang lemah, mempertemukan sesama UMKM yang bersaing, bernegosiasi dan berkompromi, bersepakat untuk berpartner sejauh mungkin. Semboyan bangsa Indonesia adalah “Bhineka Tunggal Ika” lebih bermakna politis, yang menyerukan persatuan harus dipahami dan diterapkan secara lebih mendalam sampai tingkat hubungan kehidupan sehari-hari dan dalam berbisnis. Berbeda dengan semboyan bangsa Malaysia “Bersekutu makin Bermutu” yang lebih terapan. Mungkin itulah sebabnya persekutuan di Malaysia lebih mudah dilakukan.
Itulah sebabnya pemerintah harus lebih menggalakkan koperasi pembentukan Dewan Komuditas Nasional, dengan bantuan pakar-pakar perguruan tinggi, dan menggalakkan hubungan “Supply Chain” menggantikan ‘Supply Demand” yang berlaku saat ini.
Manufacturing adalah bagian dari “value creation” dalam siklus produk yang memiliki “added value” paling rendah. Yang paling tinggi adalah di kedua ujung yaitu tahap marketing dan tahap riset. Kalau pemerintah masih pasif seperti sekarang ini, pengusaha akan banyak bergeser ke sector penjualan, marketing, distribusi logistic, pialang, eksportir, dan importer yang added valuenya tinggi dengan resiko rendah. Dengan demikian Teknologi Indonesia tak pernah akan terbentuk.
Produsen, manufaktur, pengrajin, petani, akan ditinggalkan orang karena ‘added valuenya paling rendah denga resiko paling tinggi. Yang bertahan di sector produksi, produsen, petani ini adalah mereka-mereka yang terpaksa, seperti kerajinan, petani subsistem, perajin mikro tradisional. Sektor produksi UMKM makin tersisih dan kehilangan daya tawar ekonominya. Pemerintah yang bersikap seperti inilah yang dikenal sebagai Naïve Governance.
Jadi good governance masih belum cukup. Mereka yang mendapatkan income dari rakyat lewat pajak, tetapi membiarkan sector produksi UMKM telindas oleh free trade di era globalisasi. Diperlukan smart governance, pemerintah yang banyak memiliki program membentuk institusi sebagai organisme hidup. Koperasi, dewan, pasar, sentra industri, sentra-sentra pertumbuhan ekonomi yang memiliki :
a) Infra struktur keras, b)Infra struktur lunak, c)Dan Roh dari institusi tersebut.
Manajemen Supplay Chain harus dikembangkan. Sistem Supplay chain ini digambarkan sebagai kerangka daun, yang di dalam kerangka daun tersebut terdapat bentuk hubungan Supplay Chain. Hasil sari makanan mengalir dalam daun dan keluar daun, terdistribusi ke seluruh bentangan daun dengan lancar, bersama dengan klorofil menangkap sinar matahari.
Konsep kerangka daun ini menjamin distribusi dan transportasi air serta makanan lancar ke seluruh bagian pohon. Seperti yang dilakukan Thailand setelah sukses dengan industri produk pertanian dan otomotif. Tahun 2003-2007 pemerintah Thailand menggulirkan program industri hard disk, dan drive . Pemerintah Thailand sangat aktif membentuk system Supply Chainnya.
KONSEP SUPPLY CHAIN MENGGANTIKAN KONSEP SUPPLY DEMAND
Konsep Supplay demand tidak lain adalah falsafah “lu-lu gue-gue” pada hubungan antar manusia, manusia dengan lembaga, dan lembaga dengan lembaga. Hubungan ini bukan hubungan persahabatan, tetapi hubungan tawar-menawar antara supplay dan demand tanpa memerlukan syarat pernah kenal percaya atau ‘trust’. Siapapun yang memiliki posisi tawar kuat, akan mendominasi hubungan supplay demand ini.
Di sisi lain dikenal secara meluas konsep “Supplay Chain”. Hubungan ini lebih bersifat hubungan kepercayaan atau “trust” hubungan yang umumnya diwarnai oleh perjanjian-perjanjian atau kesepakatan. Tata hubungan bisnis umumnya dalam wujud kesepakatan jual beli jangka panjang atau kontrak pembelian-penjualan. Di dalamnya terkandung kesepakatan paling tidak tentang harga, kualitas, dan waktu.
Hubungan Supplay Demand memungkinkan tindakan-tindakan penindasan pada yang terpojok. Seperti, mendadak terjadi penurunan harga oleh tengkulak pada saat panen raya komuditas pertanian, sehingga memaksa petani kecil untuk menjual produk dengan harga sangat murah.
BUKTI SUPREMASI BUDAYA TIMUR
4 pemenang hadiah nobel
1. Pemenang hadiah Nobel Ekonomi tahun 1994 Prof. John Nash mengetengahkan kembali konsep kerjasama.
2. Terbaik kedua Prof. Stiglitz, pemenang hadiah Nobel Ekonomi tahun 2001 tentang informasi aksisimetrik atau formulasi perdagangan adil atau berkeadilan bila informasi yang dimiliki masing-masing seimbang.
3. Prof. D. Kahnemann, pemenang hadiah Nobel Ekonomi tahun 2002 (seorang psikolog) mengetangahkan tentang perilaku ekonomi yang cerdas. Materi ini sebaiknya diajarkan di SMA karena umumnya kita memiliki “economi behavior” yang mendahulukan emosi daripada pertimbangan nalar. Kepada generasi muda memang sebaiknya diajarkan “behavioral economic” agar hidupnya bijaksana dan berperadaban tinggi.
4. Pemenang hadiah Nobel Perdamaian tahun 2006 dari Bangladesh, Prof. Muhammad Yunus, menerapkan micro-finance, yang lebih menonjolkan unsur kemanusiaan. Sangat mirip dengan konsep organisme hidup yang memerlukan sentuhan empati.
Konsep “3 komponen organisme hidup”, yaitu :
1. Konsep belajar dari pedagang tanaman hias dan ikan hias
2. Konsep antara Spesialis dan Maestro
3. Filosofi Kerangka Daun
Adalah sebuah konsep terapan budaya timur. Jadi pemberian hadiah Nobel pada keempat pemenangnya adalah suatu bukti supremasi Budaya Timur bila nilai-nilainya diterapkan di budaya barat. Jadi, kenapa Indonesia menuju Westernisasi?
Memang akhirnya seperti yang dikatakan John Naisbitt dalam “Megatrend Asia” bahwa pergeseran dominasi terjadi dari barat ke timur. Kesuksesan ternyata harus didukung oleh SDM yang cerdas, tetapi tidak harus segera didukung oleh SDM yang pintar seperti didefinisikan di barat. Thailand dan Malaysia telah membuktikannya. Otak kiri tidak harus segera terlalu dibebani ijazah dan diploma tinggi, tetapi kalau otak kanannya cerdas, mencari solusi yang intuitif akan lebih diperlukan, mereka ternyata mendapatkan jawaban yang mereka perlukan.
Indonesia menuju Westernisasi, tetapi karena konsep Western adalah “moving target” kita salah membidik Western masa lampau, saat demokrasi masih ditentukan oleh pistol koboi dan “gunman”. Demokrasi kita yang masih dalam tahap “Naïve Democracy”, susah disuguhi permainan dengan aturan main yang memerlukan “kecanggihan hukum dan keadilan”, kita mudah membuat kesalahan. Negara Indonesia telah melakukan “Dosa Kominfo” dan “Dosa Reformasi”, membuat kita makin “Western” dalam informasi dan kecerdasan, dan telah membuat perilaku kita makin “lu-lu gue-gue” ditambah lagi makin otonomya Bank Indonesia.
Dimenangkannya 4 hadiah Nobel membuktikan adanya supremasi Budaya Timur. Hal ini tentunya akan mengangkat nilai-nilai luhur di atas aturan main ketat pola Budaya Western. Tidak ada gunanya mencari siapa penanggung jawabpemilihan strategi tadi. Terus terang, kita mengatur bangsa Indonesia ini tanpa tahu bangsa Indonesia itu siapa dan seperti apa.
Dalam hal ini, kita harus belajar dari bagaimana Belanda menaklukkan suku-suku di seantero Nusantara, memerintah dengan cukup terkendali selama 350 tahun. Mereka mengoleksi buku-buku karya kerajaan-kerajaan dari seluruh Nusantara di Rijkuniversitat Leiden. Perguruan tinggi ini dulu pernah menyelenggarakan Fakultas Idiologi, tempat lulusnya calon pejabat Belanda yang akan bertugas di Indonesia. Almamater Schnock Hourgronye dan sekaligus kampusnya Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebelum dinobatkan menjadi Sultas Yogyakarta.
Dengan memetik pelajran di atas, semoga bangsa Indonesia segera bangkit. Smart Indonesia, tidak lain adalah kembali ke Budaya Timur kita. Jadilah manusia Indonesia yang cerdas.
Dicuplik dari buku "Menuju Indonesia Pemain Utama Ekonomi Dunia" oleh Dr. Ir. Sutrisno