EKONOMI PERMEN KARET VS UMKM
Masih ingat krisis moneter tahun 1997? Langkanya US Dolar waktu itu mengakibatkan harga sembako membumbung dan kemudian dikenal dengan krisis sembako. Akibat berikutnya adalah runtuhnya rezim Orde baru di bawah kepemimpinan Presiden Suharto. Perlu diketahui sebelum itu mantan Presiden Suharto memang berhasil membangun perekonomian Indonesia. Dengan ekonomi konglomerasinya beliau mampu memacu pertumbuhan. Bahkan mampu mengungguli Malaysia dan Thailand. Namun pertumbuhan yang beliau ciptakan dibangun di atas pondasi yang rapuh. Model perekonomian padat modal seperti ekonomi konglomerasi memang efektif namun sangat tidak efisien, apalagi diwarnai dengan praktek-praktek KKN. Karena perusahaan-perusahaan didirikan tidak melalui prinsip-prinsip entrepreneurship, sehingga sangat rapuh. Pertumbuhannya pun hanya dinikmati oleh segelintir orang, dan kesenjangan si kaya dan si miskin, kesenjangan pusat dan daerah semakin lebar.
Penggelembungan ekonomi yang dibangun rezim orde baru didapatkan dengan membangun industri manufaktur dengan bantuan pinjaman luar negeri. Salahnya adalah walau mampu membangun industri tetapi langsung fokus industri hilirnya, bukan dimulai dengan memperkuat industri hulu dan sektor pertanian sebagai penyedia bahan baku. Dan bahan baku dari industri manufaktur itu didapat dari impor. Akibatnya ketika US Dolar langka perusahaan itu tidak mampu impor dan macet. Uraian di atas oleh pengamat para ekonomi dinamakan Bubble economic. Cepat tumbuh tapi rapuh, mudah pecah.
Kasus serupa seperti yang terjadi di AS. Saat ini Negara adi daya ini sedang dilanda krisis moneter, Barangkali krisis moneter yang terjadi di Amerika Serikat (AS) saat ini adalah yang terparah selama setahun ke belakang sejak gonjang-ganjing kasus Subprime Mortgage. Banyak pengamat dan praktisi telah memaparkan dan menganalisa mengapa hal ini dapat terjadi. Secara umum penyebab utamanya adalah ledakan kredit oleh lembaga-lembaga keuangan dan rumah tangga yang mengakibatkan besarnya hutang yang harus dibayarkan dan akhirnya tidak terbayar. Bahkan perusahaan otomotif sebesar General Motorpun pailit dan diambil alih pemerintah.
Sebaliknya China saat ini justru mengalami surplus devisa. Selain lebih hemat dalam menggunakan sumber daya, China dengan sistem otoritarian memberlakukan upah buruh dan pekerja relatif rendah. Akibatnya biaya produksi mampu ditekan dan outputnya harga produk-produk China sangat rendah tak tertandingi. Dengan harga yang rendah dan kualitas yang relatif bagus produk-produk China mampu merajai pasaran international. Walau China adalah negara Komunis dan menolak demokrasi tapi China menerima pasar bebas.
Sedangkan Jepang adalah contoh negara yang membangun ekonominya dengan prinsip-prinsip entrepreneurship. Setelah kalah pada perang dunia II, Jepang sukses membangun ekonominya. Pada dekade 1980an pertumbuhan ekonomi Jepang 5 – 6% di atas pertumbuhan ekonomi AS. Walaupun Jepang bukan negara penemu teknologi namun sukses membangun industri otomotif dan elektronika. Jepang adalah bangsa kreatif, dia hanya mengadopsi teknologi temuan barat kemudian dengan kreatifitasnya di kembangkan dengan sangat berorientasi pasar. Hasilnya saat ini kendaraan bermotor dan produk elektronik Jepang merajai pasaran dunia. Ekonomi Jepang di motori oleh kaum Samurai yang memang bermental pejuang rela menjadi entrepreneur.
Seperti telah diuraikan di atas perekonomian melalui sistem padat modal walau mampu memacu pertumbuhan tapi tidak kokoh. Dan pada proses operasionalnya walau efektif namun tidak efisien. Sistem padat modal biasanya dibangun jauh dari prinsip-prinsip entrepreneurship. Berbeda dengan UMKM, pembangunan ekonomi melalui UMKM biasanya kuat walau pertumbuhan tidak secepat melalui padat modal. UMKM biasanya berdiri dengan dibangun dari bawah berdasarkan prinsip-prinsip entrepreneurship, sehingga kokoh dan efisien.
Pada tahun 1998 terdapat fenomena menarik, dimana 47 juta UMKM terbukti mampu bertahan dan selamat dari krisis. UMKM ini menyerap 79 juta tenaga kerja dan bahkan memberti kontribusi pada PDB sebesar 56,7% (Hartarto, 2003). Di lain pihak, bantuan pemerintah untuk UMKM saat ini relatif sangat minim. Apalagi kalau dibandingkan dengan negara-negara maju seperti Jerman, Jepang, Taiwan, dan Thailand dimana perhatian negara sangat besar dan bahkan UMKM menjadi tumpuan masa depan negara. Di negara-negara tersebut, UMKM dan entrepreneur membentuk golongan menengah.
Jepang bangkit dari keterpurukan bom atom 1950 menjadi pemimpin industri dunia dalam 23 tahun berkat jasa kaum samurai yang mau menajadi entrepreneur. Jerman dan Belanda menumpukan masa depannya pada UMKM dan industri star-up dengan konsep catur pilar yaitu : sinergi KADIN – pemerintah – perguruan tinggi – bank, dengan peran pemerintah yang agresif lewat pembangunan inkubator dalam bentuk techno-park, dengan peran aktif jaringan bisnis etniknya. Sehingga dalam 20 tahun pendapatan per kapita Taiwan meningkat 16 kali lipat. Sedangkan di Thailand kemajuan dipelopori oleh raja Bumipol dengan terjun ke lapangan mengembangkan hujan buatan sehingga 4 paten international di tangannya. Kerajan memiliki laboratorium canggih yang diperuntukan bagi kesejahteraan rakyatnya yang gemar entrepreneurship. (Wonogiri, Oktober 2009)
Rabu, 04 November 2009
Sabtu, 02 Mei 2009
UMKM, PETANI, DAN ENTREPRENEUR BARU
Perlu diingatkan kembali bahwa kegagalan pembangunan di masa lalu adalah karena proses pembangunan hanya menitik-beratkan pada ‘teknologi” dan “ekonomi”, dan melupakan bahwa dalam system canggih yang disebut negara ini, di dalamnya ada anak bangsa, manusia, kelompok manusia, dsb. Sehingga karena faktor manusia dan kemanusiaan terabaikan kemudian banyak muncul problem sosial, budaya, politik, keamanan, dan psikologi. Problem itu mencuat saat reformasi digulirkan hingga sekarang. Oleh sebab itulah “faktor manusia dan kemanusiaan” harus dimasukkan kembali dalam fase pembangunan.
SDM adalah asset bangsa SDM bisa berkarya, berkreasi, dan berinisiatif dengan ingenuitasnya. Di Negara maju, entrepreuneur dan UMKM berbasis kekuatan SDM adalah sumber kemakmuran, seperti di Jerman, Belanda, Jepang, Taiwan, Korea, China, dan hampir seluruh bangsa di dunia. Mereka adalah “pemeran utama” kegiatan ekonomi golongan menengah. Sedang di Indonesia UMKM sulit tumbuh karena birokrasi pemerintah yang seharusnya melindungi mereka bersama staka holder lain, kurang dapat menjalankan perannya dalam “membidani” kelahiran dan pertumbuhan golongan menengah penghasil produk dan teknologi unggulan bangsa.
Pertumbuhan UMKM, jaringan UMKM, dan entrepreneur akan menyerap pengangguran, mengentaskan kemiskinan bangsa, meningkatkan daya beli rakyat, dan kesejahteraan Negara. Saat ini peluang terlibat dalam kegiatan entrepreneurship tersedia luas diseluruh sektor pertanian termasuk peternakan, perkebunan, maupun kelautan. Selain sekitar 68% penduduk kita terlibat di dalamnya, sektor ini juga bepeluang menjadi world player, terlebih setelah mendapatkan kontribusi teknologi Hi-Touch dari perguruan tinggi.
UMKM sangat lemah dalam hal informasi dan distribusi, tata jaringan bisnis, apalagi diwarnai birokrat berjiwa feodal, konflik pribumi non-pribumi, konflik pedagang pendatang-petani penduduk asli, gagap entrepreneur di semua lapisan masyarakat, reformasi peran dan karakter birokrasi, monitoring, evaluasi dan kendali yang menjadi tugas departemen komunikasi dan informasi, serta paradigm shift yang harus dijalani bangsa Indonesia. Tidak kalah pentingnya pula peran pertanian entrepreneurial, inkubator, dan teknologi Hi-Touch karya sinergis antar stake holder, yaitu ; Pemerintah, perguruan tinggi, bank, dan industri. Industri-industri dalam KADIN nantinya harus berwawasan outward looking.
Konsep Entrepreneurship University akan ikut berperan dalam menentukan jenis kegiatan ekonomi golongan menengah, jenis produk, dan teknologi yang akan menjadi unggulan Indonesia. Solusi mendesak ini akan secara perlahan mengatasi pengangguran dan kemiskinan, menuju stabilitas sosial, meningkatkan daya beli, dan sekaligus memperkuat nilai tukar. Nilai kurs SDM akan makin meningkatdan teknologi strategis hasil perguruan tinggi pun akan mulai serius dipertimbangkan oleh industri-industri besar. Dengan demikian seluruh roda ekonomi akan mulai berputar stabil.
Krisis bangsa ini dapat dianalisis dari berbagai segi. Dari segi resiko, problem penghambat perbaikan keadaan saat ini adalah kesulitan proses recovery dan tingkat kondusivitas investasi rendah, sehingga pertumbuhan kekuatan nasional terkesan stagnan. Tidak bisa dipungkiri, parameter-parameter penting dari kondusivitas investasi adalah safety factor dan convinience factor, jaminan keamanan dan stabilitas bagi calon penanam modal. Faktor keamanan dan kenyamanan berinvestasi di negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan China jauh lebih baik dari Indonesia. Resiko sosial, budaya, politik, dan psikologis sangat tinggi di Indonesia. Seperti demo liar, ancaman mogok, gangguan keamanan, anarkhisme, keberingasan masyarakat, persaingan mematikan, tawuran, separtis, dan terorisme. Selain penanganan memerlukan biaya besar dan banyak waktu, ancaman ini sangat merugikan bagi kondusivits investasi. Resiko sosial, politik, budaya, dan psikologi ini juga mengancam stabilitas sosial. Tidak sulit diduga, penyebab resiko ini adalah angka pengangguran dan tingkat kemiskinan tinggi serta kondisi perburuan yang buruk.
Selama krisis tahun 1998 terdapat fenomena menarik, dimana 47 juta UMKM terbukti mampu bertahan dan selamat dari krisis. UMKM ini menyerap 79 juta tenaga kerja dan bahkan memberti kontribusi pada PDB sebesar 56,7% (Hartarto, 2003). Di lain pihak, bantuan pemerintah untuk UMKM saat ini relatif sangat minim. Apalagi kalau dibandingkan dengan negara-negara maju seperti Jerman, Jepang, Taiwan, dan Thailand dimana perhatian negara sangat besar dan bahkan UMKM menjadi tumpuan masa depan negara. Di negara-negara tersebut, UMKM dan entrepreneur membentuk golongan menengah. Jepang bangkit dari keterpurukan bom atom 1950 menjadi pemimpin industri dunia dalam 23 tahun berkat jasa kaum samurai yang mau menajdi entrepreneur. Jerman dan Belanda menumpukan masa depannya pada UMKM dan industri star-up dengan konsep catur pilar yaitu : sinergi KADIN – pemerintah – perguruan tinggi – bank, dengan pera pemerintah yang agresif lewat pembangunan inkubator dalam bentuk techno-park, dengan peran aktif jaringan bisnis etniknya. Sehingga dalam 20 tahun pendapatn per kapita Taiwan meningkat 16 kali lipat. Sedangkan di Thailand kemajuan dipelopori oleh raja Bumipol dengan terjun ke lapangan mengembangkan hujan buatan sehingga 4 paten international di tangannya. Kerajan memiliki laboratorium canggih yang diperuntukan bagi kesejahteraan rakyatnya yang gemar entrepreneurship.
Perlu diingatkan kembali bahwa kegagalan pembangunan di masa lalu adalah karena proses pembangunan hanya menitik-beratkan pada ‘teknologi” dan “ekonomi”, dan melupakan bahwa dalam system canggih yang disebut negara ini, di dalamnya ada anak bangsa, manusia, kelompok manusia, dsb. Sehingga karena faktor manusia dan kemanusiaan terabaikan kemudian banyak muncul problem sosial, budaya, politik, keamanan, dan psikologi. Problem itu mencuat saat reformasi digulirkan hingga sekarang. Oleh sebab itulah “faktor manusia dan kemanusiaan” harus dimasukkan kembali dalam fase pembangunan.
SDM adalah asset bangsa SDM bisa berkarya, berkreasi, dan berinisiatif dengan ingenuitasnya. Di Negara maju, entrepreuneur dan UMKM berbasis kekuatan SDM adalah sumber kemakmuran, seperti di Jerman, Belanda, Jepang, Taiwan, Korea, China, dan hampir seluruh bangsa di dunia. Mereka adalah “pemeran utama” kegiatan ekonomi golongan menengah. Sedang di Indonesia UMKM sulit tumbuh karena birokrasi pemerintah yang seharusnya melindungi mereka bersama staka holder lain, kurang dapat menjalankan perannya dalam “membidani” kelahiran dan pertumbuhan golongan menengah penghasil produk dan teknologi unggulan bangsa.
Pertumbuhan UMKM, jaringan UMKM, dan entrepreneur akan menyerap pengangguran, mengentaskan kemiskinan bangsa, meningkatkan daya beli rakyat, dan kesejahteraan Negara. Saat ini peluang terlibat dalam kegiatan entrepreneurship tersedia luas diseluruh sektor pertanian termasuk peternakan, perkebunan, maupun kelautan. Selain sekitar 68% penduduk kita terlibat di dalamnya, sektor ini juga bepeluang menjadi world player, terlebih setelah mendapatkan kontribusi teknologi Hi-Touch dari perguruan tinggi.
UMKM sangat lemah dalam hal informasi dan distribusi, tata jaringan bisnis, apalagi diwarnai birokrat berjiwa feodal, konflik pribumi non-pribumi, konflik pedagang pendatang-petani penduduk asli, gagap entrepreneur di semua lapisan masyarakat, reformasi peran dan karakter birokrasi, monitoring, evaluasi dan kendali yang menjadi tugas departemen komunikasi dan informasi, serta paradigm shift yang harus dijalani bangsa Indonesia. Tidak kalah pentingnya pula peran pertanian entrepreneurial, inkubator, dan teknologi Hi-Touch karya sinergis antar stake holder, yaitu ; Pemerintah, perguruan tinggi, bank, dan industri. Industri-industri dalam KADIN nantinya harus berwawasan outward looking.
Konsep Entrepreneurship University akan ikut berperan dalam menentukan jenis kegiatan ekonomi golongan menengah, jenis produk, dan teknologi yang akan menjadi unggulan Indonesia. Solusi mendesak ini akan secara perlahan mengatasi pengangguran dan kemiskinan, menuju stabilitas sosial, meningkatkan daya beli, dan sekaligus memperkuat nilai tukar. Nilai kurs SDM akan makin meningkatdan teknologi strategis hasil perguruan tinggi pun akan mulai serius dipertimbangkan oleh industri-industri besar. Dengan demikian seluruh roda ekonomi akan mulai berputar stabil.
Krisis bangsa ini dapat dianalisis dari berbagai segi. Dari segi resiko, problem penghambat perbaikan keadaan saat ini adalah kesulitan proses recovery dan tingkat kondusivitas investasi rendah, sehingga pertumbuhan kekuatan nasional terkesan stagnan. Tidak bisa dipungkiri, parameter-parameter penting dari kondusivitas investasi adalah safety factor dan convinience factor, jaminan keamanan dan stabilitas bagi calon penanam modal. Faktor keamanan dan kenyamanan berinvestasi di negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan China jauh lebih baik dari Indonesia. Resiko sosial, budaya, politik, dan psikologis sangat tinggi di Indonesia. Seperti demo liar, ancaman mogok, gangguan keamanan, anarkhisme, keberingasan masyarakat, persaingan mematikan, tawuran, separtis, dan terorisme. Selain penanganan memerlukan biaya besar dan banyak waktu, ancaman ini sangat merugikan bagi kondusivits investasi. Resiko sosial, politik, budaya, dan psikologi ini juga mengancam stabilitas sosial. Tidak sulit diduga, penyebab resiko ini adalah angka pengangguran dan tingkat kemiskinan tinggi serta kondisi perburuan yang buruk.
Selama krisis tahun 1998 terdapat fenomena menarik, dimana 47 juta UMKM terbukti mampu bertahan dan selamat dari krisis. UMKM ini menyerap 79 juta tenaga kerja dan bahkan memberti kontribusi pada PDB sebesar 56,7% (Hartarto, 2003). Di lain pihak, bantuan pemerintah untuk UMKM saat ini relatif sangat minim. Apalagi kalau dibandingkan dengan negara-negara maju seperti Jerman, Jepang, Taiwan, dan Thailand dimana perhatian negara sangat besar dan bahkan UMKM menjadi tumpuan masa depan negara. Di negara-negara tersebut, UMKM dan entrepreneur membentuk golongan menengah. Jepang bangkit dari keterpurukan bom atom 1950 menjadi pemimpin industri dunia dalam 23 tahun berkat jasa kaum samurai yang mau menajdi entrepreneur. Jerman dan Belanda menumpukan masa depannya pada UMKM dan industri star-up dengan konsep catur pilar yaitu : sinergi KADIN – pemerintah – perguruan tinggi – bank, dengan pera pemerintah yang agresif lewat pembangunan inkubator dalam bentuk techno-park, dengan peran aktif jaringan bisnis etniknya. Sehingga dalam 20 tahun pendapatn per kapita Taiwan meningkat 16 kali lipat. Sedangkan di Thailand kemajuan dipelopori oleh raja Bumipol dengan terjun ke lapangan mengembangkan hujan buatan sehingga 4 paten international di tangannya. Kerajan memiliki laboratorium canggih yang diperuntukan bagi kesejahteraan rakyatnya yang gemar entrepreneurship.
Kamis, 23 April 2009
Rabu, 22 April 2009
Peran Entrepreneurship dalam Konsep pendidikan anak bangsa
Konsep pendidikan bangsa Indonesia saat ini sangat berorientasi “degree formal” yang tentunya sangat didominasi oleh kecerdasan otak kiri. SDM diarahkan menuju pekerja, baik pekerja kasar, trampil, maupun pekerja elit. Sebenarnya kondisi ini kurang sehat. Apabila pada tahun 2030 bangsa Indonesia menjadi pemain dunia dengan sekitar 70 sampai 80 juta angkatan kerja memiliki pekerjaan yang bagus, tentu saja waktu itu Indonesia memiliki perusahaan kaliber nasional dan International. Siapa pemilik perusahaan itu, semua orang asing atau 80% milik bangsa Indonesia. Kalau ingin 80% perusahaan milik anak bangsa maka tahun 2030 Indonesia harus memiliki entrepreneur sukses beberapa juta orang. Dengan demikian kondisi pendidikan saat ini harus diimbangi dengan pendidikan berorientasi Otak kanan, soft skill, leadership, partnership, dan entrepneurship. Termasuk di dalamnya penekanan informasi tentang : i) Karakter eksponsial entrepreneur UMKM, ii) Pengalaman kehidupan interaksi sosial, iii) menerapkan teori partnership dalam hidup sehari-hari termasuk ketrampilan menggambarkan big picture permasalahan.
Manajemen yang menyeimbangkan rational scientific approach, dengan peran otak kanan, soft skill, leadership, partnership, banyak dijumpai di Jepang, Taiwan, dan Korea. Misalnya Honda Motor Corporation yang malang melintang selama 45 tahun sejak thun 1950-an mendapatkan prestasi gemilang tanpa gelar Ph.D. satupun, kecuali satu orang yaitu Sichiro Honda pendirinya, tetapi gelar tersebut adalah gelar Doktor honoris causa. Jadi leadership, partnership, dan entrepreneurship harus merupakan ingredient pokok dalam kurikulum bagi generasi pemimpin dan entrepreneur mendatang. Lebih jauh, penyelesaian melalui Entrepreneurship University juga dilirik perguruan tinggi karena dinilai sangat cerah masa depannya.
Pemikiran kita sehari-hari sudah sangat terpengaruh oleh cara berfikir Adam Smith sekitar 130 tahun yang lalu (1887) yang menyatakan bahwa “…….. setiap orang berbuat bagi dirinya” yang artinya orang tidak perlu bersusah-susah memikirkan orang lain. Jika setiap orang memikirkan dirinya sendiri, maka (kata Adam Smith) secara alami akan terjadi keseimbangan dan harmonisasi sendiri. Dalam “equilibrium dynamic” dikatakan akan ada invisible hand yang akan menyeimbangkan.
Pemikiran ekonomi ini telah berkembang terus, terutama oleh sekolah setingkat MIT yang mengembangkan Business dynamic, Harvard, Princeton, dll. Pemikiran dimulai dengan menanyakan tentang berapa lama keseimbangan akan terjadi. Mungkin model liniernya perlu dikembangkan lagi, untuk mempertimbangkan transient dan efek temporalnya yang jelas sangat dominan. Mestinya kita harus memperhatikan alasan Irving Fisher lewat modeling, dari klaim AC Pigou yang kualitatif.
Konsep pendidikan bangsa Indonesia saat ini sangat berorientasi “degree formal” yang tentunya sangat didominasi oleh kecerdasan otak kiri. SDM diarahkan menuju pekerja, baik pekerja kasar, trampil, maupun pekerja elit. Sebenarnya kondisi ini kurang sehat. Apabila pada tahun 2030 bangsa Indonesia menjadi pemain dunia dengan sekitar 70 sampai 80 juta angkatan kerja memiliki pekerjaan yang bagus, tentu saja waktu itu Indonesia memiliki perusahaan kaliber nasional dan International. Siapa pemilik perusahaan itu, semua orang asing atau 80% milik bangsa Indonesia. Kalau ingin 80% perusahaan milik anak bangsa maka tahun 2030 Indonesia harus memiliki entrepreneur sukses beberapa juta orang. Dengan demikian kondisi pendidikan saat ini harus diimbangi dengan pendidikan berorientasi Otak kanan, soft skill, leadership, partnership, dan entrepneurship. Termasuk di dalamnya penekanan informasi tentang : i) Karakter eksponsial entrepreneur UMKM, ii) Pengalaman kehidupan interaksi sosial, iii) menerapkan teori partnership dalam hidup sehari-hari termasuk ketrampilan menggambarkan big picture permasalahan.
Manajemen yang menyeimbangkan rational scientific approach, dengan peran otak kanan, soft skill, leadership, partnership, banyak dijumpai di Jepang, Taiwan, dan Korea. Misalnya Honda Motor Corporation yang malang melintang selama 45 tahun sejak thun 1950-an mendapatkan prestasi gemilang tanpa gelar Ph.D. satupun, kecuali satu orang yaitu Sichiro Honda pendirinya, tetapi gelar tersebut adalah gelar Doktor honoris causa. Jadi leadership, partnership, dan entrepreneurship harus merupakan ingredient pokok dalam kurikulum bagi generasi pemimpin dan entrepreneur mendatang. Lebih jauh, penyelesaian melalui Entrepreneurship University juga dilirik perguruan tinggi karena dinilai sangat cerah masa depannya.
Pemikiran kita sehari-hari sudah sangat terpengaruh oleh cara berfikir Adam Smith sekitar 130 tahun yang lalu (1887) yang menyatakan bahwa “…….. setiap orang berbuat bagi dirinya” yang artinya orang tidak perlu bersusah-susah memikirkan orang lain. Jika setiap orang memikirkan dirinya sendiri, maka (kata Adam Smith) secara alami akan terjadi keseimbangan dan harmonisasi sendiri. Dalam “equilibrium dynamic” dikatakan akan ada invisible hand yang akan menyeimbangkan.
Pemikiran ekonomi ini telah berkembang terus, terutama oleh sekolah setingkat MIT yang mengembangkan Business dynamic, Harvard, Princeton, dll. Pemikiran dimulai dengan menanyakan tentang berapa lama keseimbangan akan terjadi. Mungkin model liniernya perlu dikembangkan lagi, untuk mempertimbangkan transient dan efek temporalnya yang jelas sangat dominan. Mestinya kita harus memperhatikan alasan Irving Fisher lewat modeling, dari klaim AC Pigou yang kualitatif.
Jumat, 10 April 2009
Konsep Ekonomi
KONSEP ORGANISME HIDUP
Manusia, kumpulan manusia, lembaga atau institusi apapun bentuknya yang melibatkan manusia atau kumpulan manusia di dalamnya, harus diperlakukan sebagai organisme hidup. Organisme hidup itu misalnya, koperasi, sentra industri, pasar tradisional, kelompok usaha kecil, kelompok-kelompok petani, dan kontras dengan mall, supermarket, hypermarket, super chain store, dsb.
Organisme hidup itu mempunyai 3 komponen, yang tanpa kelengkapan tersebut tidak berfungsi sebagai organisme hidup. Ketiga komponen tersebut yaitu :
1. Hard infrasrukture, 2. Soft infra structure, 3. komponen Roh atau Jiwa.
Poyek-proyek pembangunan era masa lalu untuk usaha mikro dan kecil (UMK) petani kecil dan entrepreneur baru”hampir semuanya gagal” karena program-program tersebut tidak meperlihatkan kondisi di Indonesia, dan sudah dianggap cocok seperti contoh-contoh text book, dan makalah dari negara-negara maju. Perancang dan pelaksana proyek lupa bahwa Amerika, Eropa telah terbangun selama ratusan tahun, sehingga perkembangan proyek dan proses pertumbuhan sudah berjalan dengan sendirinya.
Itulah sebabnya, proyek-proyek yang hanya menekankan pada hard infrastructure hanya dengan pertimbangan teknologi dan pertumbuhan ekonomi pada akhirnya akan menimbulkan masalah budaya, politik, dan psikologi. Persoalannya akan makin terakumulasi sehingga penyelesaiannya akan memerlukan cost sedemikian mahal.
Model organisme hidup ini mempertanyakan batas-batas keabsaan asumsi “ceteris paribus” yang selama ini dipakai dalam prediksi pelaksanaan proyek (sehingga pelaksana proyeknya termasuk kategori “ill-management”)
Untuk proses pembangunan selanjutnya, pelaksanaan proyek harus memperhatikan konsep oraganisme hidup, yang harus memliki tiga komponen tersebut. Proyek jembatan, jalan, tol, pelabuhan, dan lain-lain harus ditinjau sebagai sebuah organisme hidup pula, sehingga benefit ekonomi bangsa bisa optimal.
KONSEP ANTARA SPESIALIS DAN MAESTRO
Dalam dunia profesi, seperti dosen, pakar, ilmuwan, dokter, seniman lukis, tari, musik dikenal profesional spesialis. Kondisi seperti ini kurang menguntungkan untuk negara berkembang seperti Indonesia. Sistem ekonomi dan sistem pengembangan teknologi belum terbentuk. Bangsa ini masih memerlukan usaha membentuk sistem menuju sistem seperti kerangka daun. Bangsa ini memerlukan pakar spesialis-generalis, menuju terbentuknya supplay chain agar tercipta teknologi unggulan. Terbangunnya sistem supplay chain menuju system ekonomi handal. Teknologi-teknologi yang diperlukan untuk itu dalam buku ini disebut supplay chain technology, sedang konsep ekonomi yang diperlukan adalah supply chain economy. Bangsa ini memerlukan cukup banyak professional generalis, misalnya professor entrepreneurship, Profesor Psikologi Politik sehingga terbentuk strategi-strategi entrepreneurship bangsa, dan juga menghasilkan sebanyak mungkin politisi-politisi negarawan. Misalnya pakar profesionalis generalis diharapkan menjadi semaian Maestro-mastro bangsa. Pakar-pakar yang piawai dibidangnya, tetapi juga humanis, penuh empati, keagungan nila-nilai kemanusiaan.
Maestro lukis Affandi yang dikenal ekspresionis, mampu menghasilkan gambar naturalis, lembut dan indah. Demikian juga John Lenon ataupun Deep Purple, lagu-lagu klasik mereka lembut dan indah memukau, walaupun mereka musisi beraliran rock. Jadi, Insinyur, Hakim, ekonom, sejarawan, budayawan, dokter, politisi, yang ahli dalam ilmu spesialisasinya diharapkan juga menghayati soft science, memahami dan menerapkan nilai-nilai kemanusiaan, humanis, penuh empati, apalagi bangsa ini menjunjung tinggi ilmu ketimurannya. Landasan soft science ini yang akan menggayutkan dengan ilmu dan kepakaran lain, merajud sebuah supplay chain membentuk kepakaran baru dengan nilai-nilai kemanusiaan yang makin meningkat.
BELAJAR DARI PEDAGANG TANAMAN HIAS VS PEDAGANG IKAN HIAS
Sifat “non-linieritas” interaksi kumpulan, kelompok, gerombolan, kelembagaan, atau institusi akan tampak fenomenanya bila diamati dari pedagang tanaman hias. Gerombolan tanaman hias bila diguyur air, selain tanah menjadi basah juga akan timbul kelembaban udara oleh uap air karena lebatnya kanopi daun. Udara yang lembab akan menahan penguapan air dari daun, batang, dan bunga. Meski terkena terpaan sinar matahari langsung, gerombolan tanaman itu tidak mudah layu. Kelembaban ini akan hilang apabila gerombolan tanaman hias ini dipisah-pisahkan. Biaya pemeliharan tiap tanaman menjadi lebih mahal, apalagi tanaman dipelihara dalam pot-pot kecil.
Demikian ikan hias, apabila dipelihara dalam akuarium, banyak diperlukan sirkulasi air, ogsigen buatan, sistem pengolah racun dari buangan kotoran, secara artificial pula. Sama halnya dengan sebuah keluarga yang hidup di dalam kompleks perumahan mewah dengan penjagaan keamanan oleh Satpam. Selain diperlukan biaya operasional yang sangat mahal, kehangatan hidup yang diperoleh juga sangat minimal.
Manusia, kumpulan manusia, lembaga atau institusi apapun bentuknya yang melibatkan manusia atau kumpulan manusia di dalamnya, harus diperlakukan sebagai organisme hidup. Organisme hidup itu misalnya, koperasi, sentra industri, pasar tradisional, kelompok usaha kecil, kelompok-kelompok petani, dan kontras dengan mall, supermarket, hypermarket, super chain store, dsb.
Organisme hidup itu mempunyai 3 komponen, yang tanpa kelengkapan tersebut tidak berfungsi sebagai organisme hidup. Ketiga komponen tersebut yaitu :
1. Hard infrasrukture, 2. Soft infra structure, 3. komponen Roh atau Jiwa.
Poyek-proyek pembangunan era masa lalu untuk usaha mikro dan kecil (UMK) petani kecil dan entrepreneur baru”hampir semuanya gagal” karena program-program tersebut tidak meperlihatkan kondisi di Indonesia, dan sudah dianggap cocok seperti contoh-contoh text book, dan makalah dari negara-negara maju. Perancang dan pelaksana proyek lupa bahwa Amerika, Eropa telah terbangun selama ratusan tahun, sehingga perkembangan proyek dan proses pertumbuhan sudah berjalan dengan sendirinya.
Itulah sebabnya, proyek-proyek yang hanya menekankan pada hard infrastructure hanya dengan pertimbangan teknologi dan pertumbuhan ekonomi pada akhirnya akan menimbulkan masalah budaya, politik, dan psikologi. Persoalannya akan makin terakumulasi sehingga penyelesaiannya akan memerlukan cost sedemikian mahal.
Model organisme hidup ini mempertanyakan batas-batas keabsaan asumsi “ceteris paribus” yang selama ini dipakai dalam prediksi pelaksanaan proyek (sehingga pelaksana proyeknya termasuk kategori “ill-management”)
Untuk proses pembangunan selanjutnya, pelaksanaan proyek harus memperhatikan konsep oraganisme hidup, yang harus memliki tiga komponen tersebut. Proyek jembatan, jalan, tol, pelabuhan, dan lain-lain harus ditinjau sebagai sebuah organisme hidup pula, sehingga benefit ekonomi bangsa bisa optimal.
KONSEP ANTARA SPESIALIS DAN MAESTRO
Dalam dunia profesi, seperti dosen, pakar, ilmuwan, dokter, seniman lukis, tari, musik dikenal profesional spesialis. Kondisi seperti ini kurang menguntungkan untuk negara berkembang seperti Indonesia. Sistem ekonomi dan sistem pengembangan teknologi belum terbentuk. Bangsa ini masih memerlukan usaha membentuk sistem menuju sistem seperti kerangka daun. Bangsa ini memerlukan pakar spesialis-generalis, menuju terbentuknya supplay chain agar tercipta teknologi unggulan. Terbangunnya sistem supplay chain menuju system ekonomi handal. Teknologi-teknologi yang diperlukan untuk itu dalam buku ini disebut supplay chain technology, sedang konsep ekonomi yang diperlukan adalah supply chain economy. Bangsa ini memerlukan cukup banyak professional generalis, misalnya professor entrepreneurship, Profesor Psikologi Politik sehingga terbentuk strategi-strategi entrepreneurship bangsa, dan juga menghasilkan sebanyak mungkin politisi-politisi negarawan. Misalnya pakar profesionalis generalis diharapkan menjadi semaian Maestro-mastro bangsa. Pakar-pakar yang piawai dibidangnya, tetapi juga humanis, penuh empati, keagungan nila-nilai kemanusiaan.
Maestro lukis Affandi yang dikenal ekspresionis, mampu menghasilkan gambar naturalis, lembut dan indah. Demikian juga John Lenon ataupun Deep Purple, lagu-lagu klasik mereka lembut dan indah memukau, walaupun mereka musisi beraliran rock. Jadi, Insinyur, Hakim, ekonom, sejarawan, budayawan, dokter, politisi, yang ahli dalam ilmu spesialisasinya diharapkan juga menghayati soft science, memahami dan menerapkan nilai-nilai kemanusiaan, humanis, penuh empati, apalagi bangsa ini menjunjung tinggi ilmu ketimurannya. Landasan soft science ini yang akan menggayutkan dengan ilmu dan kepakaran lain, merajud sebuah supplay chain membentuk kepakaran baru dengan nilai-nilai kemanusiaan yang makin meningkat.
BELAJAR DARI PEDAGANG TANAMAN HIAS VS PEDAGANG IKAN HIAS
Sifat “non-linieritas” interaksi kumpulan, kelompok, gerombolan, kelembagaan, atau institusi akan tampak fenomenanya bila diamati dari pedagang tanaman hias. Gerombolan tanaman hias bila diguyur air, selain tanah menjadi basah juga akan timbul kelembaban udara oleh uap air karena lebatnya kanopi daun. Udara yang lembab akan menahan penguapan air dari daun, batang, dan bunga. Meski terkena terpaan sinar matahari langsung, gerombolan tanaman itu tidak mudah layu. Kelembaban ini akan hilang apabila gerombolan tanaman hias ini dipisah-pisahkan. Biaya pemeliharan tiap tanaman menjadi lebih mahal, apalagi tanaman dipelihara dalam pot-pot kecil.
Demikian ikan hias, apabila dipelihara dalam akuarium, banyak diperlukan sirkulasi air, ogsigen buatan, sistem pengolah racun dari buangan kotoran, secara artificial pula. Sama halnya dengan sebuah keluarga yang hidup di dalam kompleks perumahan mewah dengan penjagaan keamanan oleh Satpam. Selain diperlukan biaya operasional yang sangat mahal, kehangatan hidup yang diperoleh juga sangat minimal.
Jumat, 27 Maret 2009
KONSEP KERANGKA DAUN
Pemerintah yang membiarkan industri mikro kecil, petani kecil, dan entrepreneur baru berjuang sendiri untuk membesar, sebenarnya sangat naïf. UMKM dibiarkan bertarung secara supplay demand melawan barrier of entry, pesaing dari luar maupun dari dalam dibiarkan bertarung dengan UMKM, menunjukkan bahwa pemerintah tidak memahami tugas-tugasnya.
Mungkin sangat naïf memahami pemerintah dari arti kata pemerintah sendiri sebagai “pemberi perintah”. Hubungan pemerintah dan UMKM adala hubungan kemanusiaan. Demi keadilan membantu yang lemah, mempertemukan sesama UMKM yang bersaing, bernegosiasi dan berkompromi, bersepakat untuk berpartner sejauh mungkin. Semboyan bangsa Indonesia adalah “Bhineka Tunggal Ika” lebih bermakna politis, yang menyerukan persatuan harus dipahami dan diterapkan secara lebih mendalam sampai tingkat hubungan kehidupan sehari-hari dan dalam berbisnis. Berbeda dengan semboyan bangsa Malaysia “Bersekutu makin Bermutu” yang lebih terapan. Mungkin itulah sebabnya persekutuan di Malaysia lebih mudah dilakukan.
Itulah sebabnya pemerintah harus lebih menggalakkan koperasi pembentukan Dewan Komuditas Nasional, dengan bantuan pakar-pakar perguruan tinggi, dan menggalakkan hubungan “Supply Chain” menggantikan ‘Supply Demand” yang berlaku saat ini.
Manufacturing adalah bagian dari “value creation” dalam siklus produk yang memiliki “added value” paling rendah. Yang paling tinggi adalah di kedua ujung yaitu tahap marketing dan tahap riset. Kalau pemerintah masih pasif seperti sekarang ini, pengusaha akan banyak bergeser ke sector penjualan, marketing, distribusi logistic, pialang, eksportir, dan importer yang added valuenya tinggi dengan resiko rendah. Dengan demikian Teknologi Indonesia tak pernah akan terbentuk.
Produsen, manufaktur, pengrajin, petani, akan ditinggalkan orang karena ‘added valuenya paling rendah denga resiko paling tinggi. Yang bertahan di sector produksi, produsen, petani ini adalah mereka-mereka yang terpaksa, seperti kerajinan, petani subsistem, perajin mikro tradisional. Sektor produksi UMKM makin tersisih dan kehilangan daya tawar ekonominya. Pemerintah yang bersikap seperti inilah yang dikenal sebagai Naïve Governance.
Jadi good governance masih belum cukup. Mereka yang mendapatkan income dari rakyat lewat pajak, tetapi membiarkan sector produksi UMKM telindas oleh free trade di era globalisasi. Diperlukan smart governance, pemerintah yang banyak memiliki program membentuk institusi sebagai organisme hidup. Koperasi, dewan, pasar, sentra industri, sentra-sentra pertumbuhan ekonomi yang memiliki :
a) Infra struktur keras, b)Infra struktur lunak, c)Dan Roh dari institusi tersebut.
Manajemen Supplay Chain harus dikembangkan. Sistem Supplay chain ini digambarkan sebagai kerangka daun, yang di dalam kerangka daun tersebut terdapat bentuk hubungan Supplay Chain. Hasil sari makanan mengalir dalam daun dan keluar daun, terdistribusi ke seluruh bentangan daun dengan lancar, bersama dengan klorofil menangkap sinar matahari.
Konsep kerangka daun ini menjamin distribusi dan transportasi air serta makanan lancar ke seluruh bagian pohon. Seperti yang dilakukan Thailand setelah sukses dengan industri produk pertanian dan otomotif. Tahun 2003-2007 pemerintah Thailand menggulirkan program industri hard disk, dan drive . Pemerintah Thailand sangat aktif membentuk system Supply Chainnya.
KONSEP SUPPLY CHAIN MENGGANTIKAN KONSEP SUPPLY DEMAND
Konsep Supplay demand tidak lain adalah falsafah “lu-lu gue-gue” pada hubungan antar manusia, manusia dengan lembaga, dan lembaga dengan lembaga. Hubungan ini bukan hubungan persahabatan, tetapi hubungan tawar-menawar antara supplay dan demand tanpa memerlukan syarat pernah kenal percaya atau ‘trust’. Siapapun yang memiliki posisi tawar kuat, akan mendominasi hubungan supplay demand ini.
Di sisi lain dikenal secara meluas konsep “Supplay Chain”. Hubungan ini lebih bersifat hubungan kepercayaan atau “trust” hubungan yang umumnya diwarnai oleh perjanjian-perjanjian atau kesepakatan. Tata hubungan bisnis umumnya dalam wujud kesepakatan jual beli jangka panjang atau kontrak pembelian-penjualan. Di dalamnya terkandung kesepakatan paling tidak tentang harga, kualitas, dan waktu.
Hubungan Supplay Demand memungkinkan tindakan-tindakan penindasan pada yang terpojok. Seperti, mendadak terjadi penurunan harga oleh tengkulak pada saat panen raya komuditas pertanian, sehingga memaksa petani kecil untuk menjual produk dengan harga sangat murah.
BUKTI SUPREMASI BUDAYA TIMUR
4 pemenang hadiah nobel
1. Pemenang hadiah Nobel Ekonomi tahun 1994 Prof. John Nash mengetengahkan kembali konsep kerjasama.
2. Terbaik kedua Prof. Stiglitz, pemenang hadiah Nobel Ekonomi tahun 2001 tentang informasi aksisimetrik atau formulasi perdagangan adil atau berkeadilan bila informasi yang dimiliki masing-masing seimbang.
3. Prof. D. Kahnemann, pemenang hadiah Nobel Ekonomi tahun 2002 (seorang psikolog) mengetangahkan tentang perilaku ekonomi yang cerdas. Materi ini sebaiknya diajarkan di SMA karena umumnya kita memiliki “economi behavior” yang mendahulukan emosi daripada pertimbangan nalar. Kepada generasi muda memang sebaiknya diajarkan “behavioral economic” agar hidupnya bijaksana dan berperadaban tinggi.
4. Pemenang hadiah Nobel Perdamaian tahun 2006 dari Bangladesh, Prof. Muhammad Yunus, menerapkan micro-finance, yang lebih menonjolkan unsur kemanusiaan. Sangat mirip dengan konsep organisme hidup yang memerlukan sentuhan empati.
Konsep “3 komponen organisme hidup”, yaitu :
1. Konsep belajar dari pedagang tanaman hias dan ikan hias
2. Konsep antara Spesialis dan Maestro
3. Filosofi Kerangka Daun
Adalah sebuah konsep terapan budaya timur. Jadi pemberian hadiah Nobel pada keempat pemenangnya adalah suatu bukti supremasi Budaya Timur bila nilai-nilainya diterapkan di budaya barat. Jadi, kenapa Indonesia menuju Westernisasi?
Memang akhirnya seperti yang dikatakan John Naisbitt dalam “Megatrend Asia” bahwa pergeseran dominasi terjadi dari barat ke timur. Kesuksesan ternyata harus didukung oleh SDM yang cerdas, tetapi tidak harus segera didukung oleh SDM yang pintar seperti didefinisikan di barat. Thailand dan Malaysia telah membuktikannya. Otak kiri tidak harus segera terlalu dibebani ijazah dan diploma tinggi, tetapi kalau otak kanannya cerdas, mencari solusi yang intuitif akan lebih diperlukan, mereka ternyata mendapatkan jawaban yang mereka perlukan.
Indonesia menuju Westernisasi, tetapi karena konsep Western adalah “moving target” kita salah membidik Western masa lampau, saat demokrasi masih ditentukan oleh pistol koboi dan “gunman”. Demokrasi kita yang masih dalam tahap “Naïve Democracy”, susah disuguhi permainan dengan aturan main yang memerlukan “kecanggihan hukum dan keadilan”, kita mudah membuat kesalahan. Negara Indonesia telah melakukan “Dosa Kominfo” dan “Dosa Reformasi”, membuat kita makin “Western” dalam informasi dan kecerdasan, dan telah membuat perilaku kita makin “lu-lu gue-gue” ditambah lagi makin otonomya Bank Indonesia.
Dimenangkannya 4 hadiah Nobel membuktikan adanya supremasi Budaya Timur. Hal ini tentunya akan mengangkat nilai-nilai luhur di atas aturan main ketat pola Budaya Western. Tidak ada gunanya mencari siapa penanggung jawabpemilihan strategi tadi. Terus terang, kita mengatur bangsa Indonesia ini tanpa tahu bangsa Indonesia itu siapa dan seperti apa.
Dalam hal ini, kita harus belajar dari bagaimana Belanda menaklukkan suku-suku di seantero Nusantara, memerintah dengan cukup terkendali selama 350 tahun. Mereka mengoleksi buku-buku karya kerajaan-kerajaan dari seluruh Nusantara di Rijkuniversitat Leiden. Perguruan tinggi ini dulu pernah menyelenggarakan Fakultas Idiologi, tempat lulusnya calon pejabat Belanda yang akan bertugas di Indonesia. Almamater Schnock Hourgronye dan sekaligus kampusnya Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebelum dinobatkan menjadi Sultas Yogyakarta.
Dengan memetik pelajran di atas, semoga bangsa Indonesia segera bangkit. Smart Indonesia, tidak lain adalah kembali ke Budaya Timur kita. Jadilah manusia Indonesia yang cerdas.
Dicuplik dari buku "Menuju Indonesia Pemain Utama Ekonomi Dunia" oleh Dr. Ir. Sutrisno
Pemerintah yang membiarkan industri mikro kecil, petani kecil, dan entrepreneur baru berjuang sendiri untuk membesar, sebenarnya sangat naïf. UMKM dibiarkan bertarung secara supplay demand melawan barrier of entry, pesaing dari luar maupun dari dalam dibiarkan bertarung dengan UMKM, menunjukkan bahwa pemerintah tidak memahami tugas-tugasnya.
Mungkin sangat naïf memahami pemerintah dari arti kata pemerintah sendiri sebagai “pemberi perintah”. Hubungan pemerintah dan UMKM adala hubungan kemanusiaan. Demi keadilan membantu yang lemah, mempertemukan sesama UMKM yang bersaing, bernegosiasi dan berkompromi, bersepakat untuk berpartner sejauh mungkin. Semboyan bangsa Indonesia adalah “Bhineka Tunggal Ika” lebih bermakna politis, yang menyerukan persatuan harus dipahami dan diterapkan secara lebih mendalam sampai tingkat hubungan kehidupan sehari-hari dan dalam berbisnis. Berbeda dengan semboyan bangsa Malaysia “Bersekutu makin Bermutu” yang lebih terapan. Mungkin itulah sebabnya persekutuan di Malaysia lebih mudah dilakukan.
Itulah sebabnya pemerintah harus lebih menggalakkan koperasi pembentukan Dewan Komuditas Nasional, dengan bantuan pakar-pakar perguruan tinggi, dan menggalakkan hubungan “Supply Chain” menggantikan ‘Supply Demand” yang berlaku saat ini.
Manufacturing adalah bagian dari “value creation” dalam siklus produk yang memiliki “added value” paling rendah. Yang paling tinggi adalah di kedua ujung yaitu tahap marketing dan tahap riset. Kalau pemerintah masih pasif seperti sekarang ini, pengusaha akan banyak bergeser ke sector penjualan, marketing, distribusi logistic, pialang, eksportir, dan importer yang added valuenya tinggi dengan resiko rendah. Dengan demikian Teknologi Indonesia tak pernah akan terbentuk.
Produsen, manufaktur, pengrajin, petani, akan ditinggalkan orang karena ‘added valuenya paling rendah denga resiko paling tinggi. Yang bertahan di sector produksi, produsen, petani ini adalah mereka-mereka yang terpaksa, seperti kerajinan, petani subsistem, perajin mikro tradisional. Sektor produksi UMKM makin tersisih dan kehilangan daya tawar ekonominya. Pemerintah yang bersikap seperti inilah yang dikenal sebagai Naïve Governance.
Jadi good governance masih belum cukup. Mereka yang mendapatkan income dari rakyat lewat pajak, tetapi membiarkan sector produksi UMKM telindas oleh free trade di era globalisasi. Diperlukan smart governance, pemerintah yang banyak memiliki program membentuk institusi sebagai organisme hidup. Koperasi, dewan, pasar, sentra industri, sentra-sentra pertumbuhan ekonomi yang memiliki :
a) Infra struktur keras, b)Infra struktur lunak, c)Dan Roh dari institusi tersebut.
Manajemen Supplay Chain harus dikembangkan. Sistem Supplay chain ini digambarkan sebagai kerangka daun, yang di dalam kerangka daun tersebut terdapat bentuk hubungan Supplay Chain. Hasil sari makanan mengalir dalam daun dan keluar daun, terdistribusi ke seluruh bentangan daun dengan lancar, bersama dengan klorofil menangkap sinar matahari.
Konsep kerangka daun ini menjamin distribusi dan transportasi air serta makanan lancar ke seluruh bagian pohon. Seperti yang dilakukan Thailand setelah sukses dengan industri produk pertanian dan otomotif. Tahun 2003-2007 pemerintah Thailand menggulirkan program industri hard disk, dan drive . Pemerintah Thailand sangat aktif membentuk system Supply Chainnya.
KONSEP SUPPLY CHAIN MENGGANTIKAN KONSEP SUPPLY DEMAND
Konsep Supplay demand tidak lain adalah falsafah “lu-lu gue-gue” pada hubungan antar manusia, manusia dengan lembaga, dan lembaga dengan lembaga. Hubungan ini bukan hubungan persahabatan, tetapi hubungan tawar-menawar antara supplay dan demand tanpa memerlukan syarat pernah kenal percaya atau ‘trust’. Siapapun yang memiliki posisi tawar kuat, akan mendominasi hubungan supplay demand ini.
Di sisi lain dikenal secara meluas konsep “Supplay Chain”. Hubungan ini lebih bersifat hubungan kepercayaan atau “trust” hubungan yang umumnya diwarnai oleh perjanjian-perjanjian atau kesepakatan. Tata hubungan bisnis umumnya dalam wujud kesepakatan jual beli jangka panjang atau kontrak pembelian-penjualan. Di dalamnya terkandung kesepakatan paling tidak tentang harga, kualitas, dan waktu.
Hubungan Supplay Demand memungkinkan tindakan-tindakan penindasan pada yang terpojok. Seperti, mendadak terjadi penurunan harga oleh tengkulak pada saat panen raya komuditas pertanian, sehingga memaksa petani kecil untuk menjual produk dengan harga sangat murah.
BUKTI SUPREMASI BUDAYA TIMUR
4 pemenang hadiah nobel
1. Pemenang hadiah Nobel Ekonomi tahun 1994 Prof. John Nash mengetengahkan kembali konsep kerjasama.
2. Terbaik kedua Prof. Stiglitz, pemenang hadiah Nobel Ekonomi tahun 2001 tentang informasi aksisimetrik atau formulasi perdagangan adil atau berkeadilan bila informasi yang dimiliki masing-masing seimbang.
3. Prof. D. Kahnemann, pemenang hadiah Nobel Ekonomi tahun 2002 (seorang psikolog) mengetangahkan tentang perilaku ekonomi yang cerdas. Materi ini sebaiknya diajarkan di SMA karena umumnya kita memiliki “economi behavior” yang mendahulukan emosi daripada pertimbangan nalar. Kepada generasi muda memang sebaiknya diajarkan “behavioral economic” agar hidupnya bijaksana dan berperadaban tinggi.
4. Pemenang hadiah Nobel Perdamaian tahun 2006 dari Bangladesh, Prof. Muhammad Yunus, menerapkan micro-finance, yang lebih menonjolkan unsur kemanusiaan. Sangat mirip dengan konsep organisme hidup yang memerlukan sentuhan empati.
Konsep “3 komponen organisme hidup”, yaitu :
1. Konsep belajar dari pedagang tanaman hias dan ikan hias
2. Konsep antara Spesialis dan Maestro
3. Filosofi Kerangka Daun
Adalah sebuah konsep terapan budaya timur. Jadi pemberian hadiah Nobel pada keempat pemenangnya adalah suatu bukti supremasi Budaya Timur bila nilai-nilainya diterapkan di budaya barat. Jadi, kenapa Indonesia menuju Westernisasi?
Memang akhirnya seperti yang dikatakan John Naisbitt dalam “Megatrend Asia” bahwa pergeseran dominasi terjadi dari barat ke timur. Kesuksesan ternyata harus didukung oleh SDM yang cerdas, tetapi tidak harus segera didukung oleh SDM yang pintar seperti didefinisikan di barat. Thailand dan Malaysia telah membuktikannya. Otak kiri tidak harus segera terlalu dibebani ijazah dan diploma tinggi, tetapi kalau otak kanannya cerdas, mencari solusi yang intuitif akan lebih diperlukan, mereka ternyata mendapatkan jawaban yang mereka perlukan.
Indonesia menuju Westernisasi, tetapi karena konsep Western adalah “moving target” kita salah membidik Western masa lampau, saat demokrasi masih ditentukan oleh pistol koboi dan “gunman”. Demokrasi kita yang masih dalam tahap “Naïve Democracy”, susah disuguhi permainan dengan aturan main yang memerlukan “kecanggihan hukum dan keadilan”, kita mudah membuat kesalahan. Negara Indonesia telah melakukan “Dosa Kominfo” dan “Dosa Reformasi”, membuat kita makin “Western” dalam informasi dan kecerdasan, dan telah membuat perilaku kita makin “lu-lu gue-gue” ditambah lagi makin otonomya Bank Indonesia.
Dimenangkannya 4 hadiah Nobel membuktikan adanya supremasi Budaya Timur. Hal ini tentunya akan mengangkat nilai-nilai luhur di atas aturan main ketat pola Budaya Western. Tidak ada gunanya mencari siapa penanggung jawabpemilihan strategi tadi. Terus terang, kita mengatur bangsa Indonesia ini tanpa tahu bangsa Indonesia itu siapa dan seperti apa.
Dalam hal ini, kita harus belajar dari bagaimana Belanda menaklukkan suku-suku di seantero Nusantara, memerintah dengan cukup terkendali selama 350 tahun. Mereka mengoleksi buku-buku karya kerajaan-kerajaan dari seluruh Nusantara di Rijkuniversitat Leiden. Perguruan tinggi ini dulu pernah menyelenggarakan Fakultas Idiologi, tempat lulusnya calon pejabat Belanda yang akan bertugas di Indonesia. Almamater Schnock Hourgronye dan sekaligus kampusnya Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebelum dinobatkan menjadi Sultas Yogyakarta.
Dengan memetik pelajran di atas, semoga bangsa Indonesia segera bangkit. Smart Indonesia, tidak lain adalah kembali ke Budaya Timur kita. Jadilah manusia Indonesia yang cerdas.
Dicuplik dari buku "Menuju Indonesia Pemain Utama Ekonomi Dunia" oleh Dr. Ir. Sutrisno
Langganan:
Postingan (Atom)
