UMKM, PETANI, DAN ENTREPRENEUR BARU
Perlu diingatkan kembali bahwa kegagalan pembangunan di masa lalu adalah karena proses pembangunan hanya menitik-beratkan pada ‘teknologi” dan “ekonomi”, dan melupakan bahwa dalam system canggih yang disebut negara ini, di dalamnya ada anak bangsa, manusia, kelompok manusia, dsb. Sehingga karena faktor manusia dan kemanusiaan terabaikan kemudian banyak muncul problem sosial, budaya, politik, keamanan, dan psikologi. Problem itu mencuat saat reformasi digulirkan hingga sekarang. Oleh sebab itulah “faktor manusia dan kemanusiaan” harus dimasukkan kembali dalam fase pembangunan.
SDM adalah asset bangsa SDM bisa berkarya, berkreasi, dan berinisiatif dengan ingenuitasnya. Di Negara maju, entrepreuneur dan UMKM berbasis kekuatan SDM adalah sumber kemakmuran, seperti di Jerman, Belanda, Jepang, Taiwan, Korea, China, dan hampir seluruh bangsa di dunia. Mereka adalah “pemeran utama” kegiatan ekonomi golongan menengah. Sedang di Indonesia UMKM sulit tumbuh karena birokrasi pemerintah yang seharusnya melindungi mereka bersama staka holder lain, kurang dapat menjalankan perannya dalam “membidani” kelahiran dan pertumbuhan golongan menengah penghasil produk dan teknologi unggulan bangsa.
Pertumbuhan UMKM, jaringan UMKM, dan entrepreneur akan menyerap pengangguran, mengentaskan kemiskinan bangsa, meningkatkan daya beli rakyat, dan kesejahteraan Negara. Saat ini peluang terlibat dalam kegiatan entrepreneurship tersedia luas diseluruh sektor pertanian termasuk peternakan, perkebunan, maupun kelautan. Selain sekitar 68% penduduk kita terlibat di dalamnya, sektor ini juga bepeluang menjadi world player, terlebih setelah mendapatkan kontribusi teknologi Hi-Touch dari perguruan tinggi.
UMKM sangat lemah dalam hal informasi dan distribusi, tata jaringan bisnis, apalagi diwarnai birokrat berjiwa feodal, konflik pribumi non-pribumi, konflik pedagang pendatang-petani penduduk asli, gagap entrepreneur di semua lapisan masyarakat, reformasi peran dan karakter birokrasi, monitoring, evaluasi dan kendali yang menjadi tugas departemen komunikasi dan informasi, serta paradigm shift yang harus dijalani bangsa Indonesia. Tidak kalah pentingnya pula peran pertanian entrepreneurial, inkubator, dan teknologi Hi-Touch karya sinergis antar stake holder, yaitu ; Pemerintah, perguruan tinggi, bank, dan industri. Industri-industri dalam KADIN nantinya harus berwawasan outward looking.
Konsep Entrepreneurship University akan ikut berperan dalam menentukan jenis kegiatan ekonomi golongan menengah, jenis produk, dan teknologi yang akan menjadi unggulan Indonesia. Solusi mendesak ini akan secara perlahan mengatasi pengangguran dan kemiskinan, menuju stabilitas sosial, meningkatkan daya beli, dan sekaligus memperkuat nilai tukar. Nilai kurs SDM akan makin meningkatdan teknologi strategis hasil perguruan tinggi pun akan mulai serius dipertimbangkan oleh industri-industri besar. Dengan demikian seluruh roda ekonomi akan mulai berputar stabil.
Krisis bangsa ini dapat dianalisis dari berbagai segi. Dari segi resiko, problem penghambat perbaikan keadaan saat ini adalah kesulitan proses recovery dan tingkat kondusivitas investasi rendah, sehingga pertumbuhan kekuatan nasional terkesan stagnan. Tidak bisa dipungkiri, parameter-parameter penting dari kondusivitas investasi adalah safety factor dan convinience factor, jaminan keamanan dan stabilitas bagi calon penanam modal. Faktor keamanan dan kenyamanan berinvestasi di negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan China jauh lebih baik dari Indonesia. Resiko sosial, budaya, politik, dan psikologis sangat tinggi di Indonesia. Seperti demo liar, ancaman mogok, gangguan keamanan, anarkhisme, keberingasan masyarakat, persaingan mematikan, tawuran, separtis, dan terorisme. Selain penanganan memerlukan biaya besar dan banyak waktu, ancaman ini sangat merugikan bagi kondusivits investasi. Resiko sosial, politik, budaya, dan psikologi ini juga mengancam stabilitas sosial. Tidak sulit diduga, penyebab resiko ini adalah angka pengangguran dan tingkat kemiskinan tinggi serta kondisi perburuan yang buruk.
Selama krisis tahun 1998 terdapat fenomena menarik, dimana 47 juta UMKM terbukti mampu bertahan dan selamat dari krisis. UMKM ini menyerap 79 juta tenaga kerja dan bahkan memberti kontribusi pada PDB sebesar 56,7% (Hartarto, 2003). Di lain pihak, bantuan pemerintah untuk UMKM saat ini relatif sangat minim. Apalagi kalau dibandingkan dengan negara-negara maju seperti Jerman, Jepang, Taiwan, dan Thailand dimana perhatian negara sangat besar dan bahkan UMKM menjadi tumpuan masa depan negara. Di negara-negara tersebut, UMKM dan entrepreneur membentuk golongan menengah. Jepang bangkit dari keterpurukan bom atom 1950 menjadi pemimpin industri dunia dalam 23 tahun berkat jasa kaum samurai yang mau menajdi entrepreneur. Jerman dan Belanda menumpukan masa depannya pada UMKM dan industri star-up dengan konsep catur pilar yaitu : sinergi KADIN – pemerintah – perguruan tinggi – bank, dengan pera pemerintah yang agresif lewat pembangunan inkubator dalam bentuk techno-park, dengan peran aktif jaringan bisnis etniknya. Sehingga dalam 20 tahun pendapatn per kapita Taiwan meningkat 16 kali lipat. Sedangkan di Thailand kemajuan dipelopori oleh raja Bumipol dengan terjun ke lapangan mengembangkan hujan buatan sehingga 4 paten international di tangannya. Kerajan memiliki laboratorium canggih yang diperuntukan bagi kesejahteraan rakyatnya yang gemar entrepreneurship.